Membangun Ekosistem Pendidikan yang Menumbuhkembangkan Manusia

  • Bagian Ketiga
  • Pendidikan berbasis karakter. SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta membangun budaya sekolah yang berlandaskan adab, nilai-nilai Islam, dan wawasan global sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik.
  • Inovasi untuk masa depan. Pembelajaran dikembangkan melalui kelas Sains Digital, Digital Language, kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta pemanfaatan AI sebagai mitra belajar untuk meningkatkan kreativitas dan berpikir kritis.
  • Kepemimpinan yang bertumbuh. Fajar menanamkan budaya belajar bagi guru, menerapkan kepemimpinan yang visioner dan adaptif, serta memaknai jabatan sebagai amanah untuk memanusiakan manusia melalui pendidikan.

BAGI Fajar Arif Herjayanto, keberhasilan sebuah sekolah tidak pernah diukur hanya dari banyaknya piala yang memenuhi lemari prestasi atau tingginya nilai akademik para siswanya. Semua itu penting, namun ada ukuran yang jauh lebih mendasar.

Apakah sekolah mampu membentuk manusia yang berkarakter?

Pertanyaan itulah yang terus ia bawa setiap kali menyusun program, mengambil keputusan, hingga menentukan arah pengembangan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta. Ia meyakini bahwa sekolah bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah ekosistem yang setiap harinya membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang anak.

Karena itulah, hal pertama yang ingin ia bangun bukanlah gedung baru atau fasilitas yang megah melainkan budaya.

“Budaya sekolah adalah guru yang tidak pernah libur,” demikian kira-kira prinsip yang ia pegang. Ketika guru selesai mengajar dan siswa pulang ke rumah, budaya yang telah ditanamkan akan tetap hidup dalam setiap kebiasaan yang mereka bawa.

Di SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, budaya itu dibangun di atas tiga fondasi yang saling menguatkan yaitu adab, nilai-nilai Islam, dan wawasan global.

Sebagai sekolah yang tumbuh di Yogyakarta, Fajar merasa penting menjaga warisan budaya yang telah lama menjadi identitas masyarakatnya. Ia tidak ingin para siswa kehilangan nilai-nilai luhur Jawa di tengah derasnya arus globalisasi. Karena itu, unggah-ungguh, tata krama, dan subasita bukan sekadar istilah yang dikenalkan dalam pelajaran. Nilai-nilai tersebut dihidupkan dalam keseharian sekolah seperti cara siswa menyapa guru, cara mereka menghormati teman, cara mereka berbicara kepada orang yang lebih tua, cara mereka meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

Semua kebiasaan kecil itu, menurut Fajar, sesungguhnya adalah pendidikan karakter yang paling nyata. “Kami ingin anak-anak memiliki sopan santun yang baik, adab yang kuat. Itu menjadi identitas mereka,” ujarnya.

Namun, karakter tidak cukup dibangun hanya melalui budaya lokal. Sebagai sekolah Islam, ia ingin nilai-nilai keagamaan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan berhenti sebagai materi pelajaran di dalam kelas. Karena itu, peserta didik dibiasakan menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat dhuha, berdzikir, hingga membangun kebiasaan-kebiasaan baik yang perlahan membentuk kedisiplinan spiritual.

“Kami ingin nilai keislaman itu benar-benar hidup dalam keseharian mereka, bukan sekadar teori.”

Bagi Fajar, ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa akhlak akan kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak yang baik juga perlu ditopang oleh ilmu pengetahuan agar mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Di sinilah ia berusaha mempertemukan dua dunia yang sering kali dianggap bertolak belakang: nilai-nilai religius dan tuntutan global.

Menurutnya, peserta didik masa kini tidak cukup hanya menjadi anak yang saleh. Mereka juga harus mampu berbicara dengan dunia. Harus siap menghadapi perubahan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, serta persaingan yang semakin terbuka.

“Harapannya, mereka menjadi pribadi yang utuh—adabnya baik, keislamannya kuat, berprestasi, dan siap menghadapi dunia global.”

Inovasi Pembelajaran

Keyakinan itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai inovasi pembelajaran. Fajar percaya bahwa sekolah tidak boleh berjalan lebih lambat daripada perubahan zaman. Ketika dunia bergerak menuju era digital dan kecerdasan buatan, sekolah juga harus bergerak dengan kecepatan yang sama. Karena itulah SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta menghadirkan berbagai program pembelajaran yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masa depan.

Melalui kelas Sains Digital, siswa diperkenalkan pada Internet of Things (IoT), STEM, Computational Thinking, hingga penelitian ilmiah. Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diajak berpikir sistematis, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya nyata.

Sementara melalui kelas Digital Language, peserta didik dibekali kemampuan berbahasa Inggris, Mandarin, dan Jawa sebagai bentuk penghargaan terhadap identitas lokal sekaligus kesiapan menghadapi masyarakat global. Pembelajaran tersebut diperkaya dengan animasi dua dimensi, cultural art series, dan penelitian di bidang bahasa maupun seni. Yang membuat program ini semakin hidup adalah semangat kolaborasi.

Fajar percaya bahwa sekolah tidak harus merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri. Justru dengan membuka diri, pengalaman belajar siswa akan semakin kaya. Karena itu, sekolah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan institusi. Mahasiswa dan dosen dari Universitas Sanata Dharma terlibat dalam penguatan Computational Thinking. Sekolah Robot Indonesia Yogyakarta mendampingi siswa di bidang STEM dan robotika. Universitas AMIKOM Yogyakarta memperkuat pembelajaran animasi, sementara mahasiswa internasional dari Universitas Negeri Yogyakarta hadir sebagai guest teacher untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris secara langsung.

“Kolaborasi ini penting agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih nyata dan kontekstual,” jelasnya.

Sikap Terbuka Terhadap AI

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, Fajar juga memilih bersikap terbuka terhadap kehadiran Artificial Intelligence (AI). Baginya, teknologi bukan ancaman. Teknologi adalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah manusia yang menggunakannya.

“Kita tidak bisa menolak teknologi. Yang penting adalah bagaimana menggunakannya dengan tepat.”

Di sekolah yang ia pimpin, AI dimanfaatkan sebagai mitra belajar. Siswa diajak menggunakan teknologi tersebut untuk membantu menyusun kerangka berpikir, mengeksplorasi ide, maupun mengembangkan penelitian. Namun, proses berpikir kritis, analisis, kreativitas, dan penyelesaian akhir tetap menjadi tanggung jawab peserta didik. Dengan demikian, AI tidak menggantikan kemampuan berpikir manusia, melainkan memperkuatnya.

Transformasi tersebut, menurut Fajar, tidak akan pernah berhasil apabila hanya menyasar peserta didik. Guru pun harus terus bertumbuh. Karena itu, budaya belajar juga dibangun di kalangan pendidik melalui Kelompok Belajar Guru (Kombel) yang rutin diselenggarakan setiap pekan. Dalam forum tersebut, para guru saling berbagi praktik baik, mendiskusikan strategi pembelajaran, hingga mempelajari pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam proses belajar mengajar.

Sekolah juga secara berkala menghadirkan pelatihan dari berbagai narasumber eksternal agar para guru tidak berhenti berkembang. Bagi Fajar, guru yang berhenti belajar akan sulit mempersiapkan murid menghadapi masa depan.

Begitu pula seorang pemimpin. Ia percaya bahwa kepala sekolah tidak boleh merasa paling tahu. Justru semakin tinggi amanah yang diemban, semakin besar pula kerendahan hati untuk terus belajar.

Filosofi kepemimpinannya sederhana, tetapi sarat makna

Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas, teguh dalam prinsip, lentur dalam menghadapi perubahan, serta bijaksana dalam mengambil keputusan.

“Kita harus bisa lentur. Ego pribadi harus dikesampingkan demi kepentingan institusi. Berpikir dengan kepala dingin, bertindak dengan tangan dingin, tetapi tetap dengan hati yang hangat,” tuturnya.

Di atas semua itu, ada satu hal yang selalu ia pegang teguh, yaitu amanah. Baginya, jabatan kepala sekolah bukanlah simbol kekuasaan. Jabatan adalah titipan. Titipan untuk menjaga kepercayaan orang tua. Titipan untuk membimbing para guru. Titipan untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh menjadi pribadi terbaiknya.

Ketika amanah itu dijalankan dengan ketulusan, sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Ia berubah menjadi rumah kedua. Tempat lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, adaptif terhadap perubahan, sekaligus siap memberikan manfaat bagi masyarakat. Dan barangkali, di situlah makna terdalam dari seluruh perjalanan Fajar Arif Herjayanto.

Bukan sekadar menjadi guru, bukan pula sekadar menjadi kepala sekolah. Melainkan menjadi bagian dari proses panjang memanusiakan manusia melalui pendidikan. (Chaidir)