Bagian Pertama

  • Dedi Priyatno tumbuh sebagai santri yang gemar membaca, sehingga literasi, adab, dan nilai-nilai pesantren menjadi fondasi karakter hidupnya.
  • Lulusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga ini mengawali karier sebagai pustakawan honorer di SMP Negeri 4 Pakem dengan mengutamakan pengalaman dan pengabdian.
  • Ketelitian, kesabaran, dan komitmennya dalam membenahi perpustakaan menjadi awal perjalanan yang kelak membawanya meraih prestasi dan dipercaya membangun komunikasi Al Azhar Yogyakarta World Schools.

“Di balik setiap profesi, selalu ada perjalanan yang membentuknya. Begitu pula dengan Dedi Priyatno. Sebelum dikenal sebagai sosok yang membangun komunikasi Al Azhar Yogyakarta World Schools, ia terlebih dahulu ditempa oleh rak-rak buku, kehidupan pesantren, dan kesederhanaan yang mengajarkannya arti pengabdian.”

Suara halaman buku yang dibalik mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Dedi Priyatno, bunyi itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak muda. Buku bukan sekadar sumber pengetahuan, melainkan jendela untuk mengenal banyak tokoh, memahami cara berpikir, sekaligus menemukan nilai-nilai kehidupan yang kelak menjadi pegangan dalam bekerja.

Menariknya, kegemaran membaca itu tidak lahir dari ruang perpustakaan megah atau kebiasaan akademik yang dipaksakan. Ia tumbuh secara alami ketika Dedi menjalani kehidupan sebagai santri di Pesantren Pandanaran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di lingkungan yang sederhana itu, ia justru menemukan ruang yang luas untuk mengenal berbagai literatur, terutama buku-buku biografi tokoh Islam, kisah para ulama, serta perjalanan para kiai yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan umat.

“Saya lebih suka membaca buku-buku tokoh, khususnya tokoh-tokoh Islam, kiai-kiai. Mungkin karena juga tinggal di pesantren,” kenangnya.

Kebiasaan membaca tersebut perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia tidak hanya belajar memahami isi buku, tetapi juga menyerap keteladanan dari orang-orang yang kisah hidupnya ia baca. Dari sana tumbuh keyakinan bahwa ilmu akan memiliki makna apabila digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Pesantren sendiri menjadi sekolah kehidupan yang tidak tergantikan. Keputusan tinggal di sana pada awalnya memang dilandasi alasan yang sederhana. Ia memiliki saudara yang menjadi pengelola pondok sehingga biaya hidup dapat ditekan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa nilai terbesar yang diperoleh bukanlah penghematan biaya, melainkan pembentukan karakter.

“Yang paling saya dapat itu belajar Al-Qur’an dengan lebih baik, belajar hidup sederhana, dan yang paling penting belajar prihatin.”

Istilah prihatin bukan sekadar hidup dalam keterbatasan. Bagi Dedi, prihatin adalah latihan mengendalikan diri, bersyukur atas apa yang dimiliki, serta tidak menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai-nilai itu berpadu dengan pelajaran tentang adab yang setiap hari ia praktikkan di lingkungan pesantren.

Menghormati orang tua, memuliakan guru, menjaga tutur kata, hingga belajar hidup berdampingan dengan banyak orang menjadi pengalaman yang terus ia bawa hingga kini.

“Itu yang paling membekas. Pondasi hidup itu dari situ.”

Kuliah Ilmu Perpustakaan

Pengalaman selama hampir satu dekade berada di lingkungan pesantren—bersamaan dengan masa kuliahnya di Program Diploma III Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta—membentuk fondasi yang kuat bagi perjalanan profesionalnya. Di satu sisi ia belajar mengelola ilmu pengetahuan secara akademis, sementara di sisi lain ia belajar membangun karakter melalui kehidupan pesantren. Perpaduan keduanya melahirkan cara pandang yang unik: bekerja bukan hanya untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian.

Pilihan mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan pun bukan tanpa alasan. Ketertarikannya terhadap dunia literasi membuatnya merasa dekat dengan profesi pustakawan. Baginya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan adalah ruang yang mempertemukan manusia dengan pengetahuan, bahkan sering kali menjadi tempat lahirnya mimpi-mimpi besar.

Tidak lama setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 2011, kesempatan pertama datang dengan cara yang nyaris tak terduga.

Hari-hari itu seharusnya masih dipenuhi suasana euforia wisuda. Namun, bahkan sebelum rasa lelah setelah mengenakan toga benar-benar hilang, seorang teman menghubunginya dan menawarkan pekerjaan di SMP Negeri 4 Pakem.

“Masih baru wisuda, bahkan belum lepas jubah, tiba-tiba diajak kerja di SMP Negeri 4 Pakem.”

Ia tidak memiliki banyak waktu untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Kesempatan itu datang lebih cepat daripada rencana yang pernah ia susun. Tanpa banyak keraguan, ia menerimanya.

Statusnya masih sebagai tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp400.000 hingga Rp600.000 setiap bulan. Jumlah yang bahkan pada masa itu tergolong sangat sederhana. Namun, Dedi tidak pernah menjadikan nominal tersebut sebagai alasan untuk mengurungkan langkahnya.

“Senang sekali. Baru lulus langsung dapat pekerjaan, walaupun honorer.”

Ia memandang pekerjaan pertamanya sebagai ruang belajar, bukan tujuan akhir. Banyak orang mengejar pekerjaan dengan gaji tinggi. Dedi justru mengejar pengalaman. Baginya, pengalaman adalah investasi yang nilainya jauh lebih panjang dibandingkan angka pada slip gaji. Cara berpikir itulah yang membuatnya mampu menikmati setiap proses yang dijalani.

Menata Perpustakaan

Ketika pertama kali memasuki perpustakaan SMP Negeri 4 Pakem, yang ia temukan bukanlah perpustakaan yang buruk. Ruangannya tertata rapi, koleksi bukunya cukup lengkap, dan pelayanan sudah berjalan. Namun, di balik kerapian tersebut, ia melihat ada banyak hal yang masih dapat diperbaiki.

“Tatanannya rapi, tapi sistemnya belum maksimal. Jadi saya lanjutkan dan benahi pelan-pelan.”

Kalimat itu menggambarkan salah satu karakter yang terus melekat dalam dirinya: tidak tergesa-gesa mengubah semuanya sekaligus. Ia memilih memahami sistem yang sudah ada, kemudian memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Tantangan terbesarnya justru datang dari pekerjaan yang mungkin dianggap sederhana oleh banyak orang. Ribuan buku paket harus dilabeli satu per satu. Setiap buku diperiksa, dikelompokkan, diberi identitas, lalu disusun kembali sesuai sistem klasifikasi. Pekerjaan yang berulang itu membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi. Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan, apalagi penghargaan. Hanya ada tumpukan buku yang setiap hari berkurang sedikit demi sedikit.

“Ribuan buku dilabeli satu-satu. Itu tantangan terberat waktu itu.”

Di tengah rutinitas tersebut, Dedi mulai memahami bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari pekerjaan yang spektakuler. Ia justru lahir dari kebiasaan menyelesaikan hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh. Keyakinan itulah yang perlahan membentuk jalan hidupnya.

Ia belum mengetahui bahwa perpustakaan kecil di SMP Negeri 4 Pakem kelak akan mengantarkannya meraih prestasi tingkat provinsi. Ia juga belum membayangkan bahwa dari ruang sunyi penuh rak buku itu, langkahnya akan terus bergerak hingga dipercaya membangun komunikasi sebuah lembaga pendidikan besar.

Namun, satu hal sudah ia yakini sejak awal. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, setiap pekerjaan pantas dikerjakan dengan sepenuh hati. (Chaidir)