SLEMAN – Pengawas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Sleman, Sasmiyati MPd, memberikan apresiasi tinggi kepada KB-TK Islam Al-Azhar 31 Yogyakarta dalam kegiatan Akhirussanah dan Tasyakuran Al-Qur’an yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (16/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sasmiyati mengaku bangga dapat menyaksikan langsung capaian para siswa, khususnya anak-anak Kelompok B yang telah menuntaskan masa pendidikan mereka dengan penuh semangat dan keceriaan.
“Ini adalah momen yang sangat membahagiakan sekaligus membanggakan. Anak-anak telah menunjukkan perkembangan luar biasa selama proses pembelajaran,” ujarnya.
Suasana acara semakin khidmat ketika para siswa menampilkan kemampuan membaca dan melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan lancar dan penuh percaya diri. Penampilan tersebut, menurut Sasmiyati, menjadi indikator kuat keberhasilan proses pendidikan yang diterapkan di KB-TK Islam Al-Azhar 31.
Ia menilai, capaian tersebut tidak terlepas dari sistem pembelajaran yang terarah serta komitmen para pendidik dalam menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. “Yang kita saksikan hari ini adalah bukti nyata bahwa proses pendidikan berjalan optimal, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan spiritual anak,” katanya.
Sasmiyati memberikan penghargaan kepada kepala sekolah dan seluruh dewan guru atas dedikasi mereka dalam mendidik anak-anak dengan penuh keikhlasan, kesabaran, serta kreativitas. Ia menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini membutuhkan pendekatan khusus yang tidak hanya mengandalkan metode, tetapi juga ketulusan hati.
“Tidak mudah mendidik anak usia dini. Dibutuhkan kesabaran, inovasi, dan keteladanan. Namun hari ini, semua itu terlihat jelas dari hasil yang ditampilkan anak-anak,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam melanjutkan pendidikan karakter anak di lingkungan keluarga. Menurutnya, keberhasilan pendidikan merupakan hasil kolaborasi yang erat antara sekolah dan rumah.
“Nilai-nilai agama, akhlak, dan kebiasaan baik yang sudah ditanamkan di sekolah perlu terus diperkuat di rumah. Sinergi inilah yang akan membentuk generasi yang kuat dan berkarakter,” tuturnya.
Sasmiyati menyampaikan ucapan selamat kepada para siswa atas pencapaian mereka. Ia berharap anak-anak dapat terus tumbuh menjadi pribadi yang gemar belajar, rajin beribadah, serta berbakti kepada orang tua.
Sekolah Pertama
Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Drs HA Hafidh Asrom MM, mengatakan bahwa KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan pertama yang didirikan oleh Yayasan Asram. Ia menjelaskan, Yayasan Asram mulai berdiri pada tahun 2003, dilanjutkan dengan pembangunan pada 2004, hingga akhirnya pada tahun ajaran 2005 sekolah ini mulai menerima peserta didik.
“Alhamdulillah, hingga saat ini kami telah meluluskan hampir 1.500 siswa, dengan rata-rata sekitar 75 siswa setiap tahun. Ini tentu menjadi capaian yang sangat membanggakan bagi kami,” ujarnya.
Hafidh juga mengaku terkesan dengan penampilan para siswa dalam kegiatan tersebut. Ia menyoroti kemampuan hafalan, keberanian tampil, serta cita-cita besar yang dimiliki anak-anak.
“Saya sangat terkesan. Bahkan tadi ada yang bercita-cita menjadi presiden. Kalau sudah ada dua calon presiden dari Al Azhar 31, mungkin ke depan Indonesia bisa kita bagi dua saja,” ucapnya disambut senyum dan tawa hadirin.
Mengingat Orang Tua
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa yayasan terus berkomitmen untuk berkembang mengikuti kebutuhan zaman serta harapan orang tua. Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga orang tua di rumah.
“Sekolah mungkin hanya sekitar empat jam sehari, sementara 20 jam lainnya adalah tanggung jawab orang tua. Karena itu, orang tua adalah guru utama sekaligus teladan bagi anak-anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan dapat terlihat ketika anak mulai mengingatkan orang tuanya dalam kebaikan, seperti mengingatkan waktu salat. Hal tersebut, menurutnya, merupakan tanda keberhasilan dalam membentuk karakter anak.
Dalam mendukung pengembangan potensi dan cita-cita siswa, yayasan telah menyiapkan berbagai fasilitas dan laboratorium pendidikan. Di antaranya laboratorium politik untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan, laboratorium keagamaan, laboratorium alam dan peternakan, hingga laboratorium bisnis dan internet. Selain itu, tersedia pula fasilitas olahraga seperti mini soccer dengan pelatih profesional, serta laboratorium berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membekali anak dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Tak hanya itu, yayasan juga menyediakan sarana pengembangan bakat di bidang seni dan musik, termasuk bagi siswa yang memiliki minat di dunia tarik suara. Fasilitas pendukung lain seperti driving range golf, pertanian modern berbasis teknologi, hingga pembelajaran digital juga terus dikembangkan.
Sejak tahun 2018, yayasan turut menghadirkan fasilitas asrama yang kini dilengkapi puluhan program kegiatan. Di dalamnya juga terdapat miniatur manasik haji sebagai sarana edukasi yang menyenangkan bagi anak-anak. Selain itu, tersedia pula fasilitas penginapan keluarga, glamping, serta berbagai sarana edukatif lainnya.
Hafidh menyampaikan bahwa seluruh fasilitas tersebut merupakan bentuk tanggung jawab yayasan dalam memberikan layanan pendidikan terbaik. Ia juga menyoroti kawasan asrama dan riverside yang kini telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk menerima kunjungan tokoh-tokoh nasional.
“Ini menunjukkan bahwa fasilitas yang kami miliki tidak hanya layak, tetapi juga mampu menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan kreativitas,” ungkapnya.
Dalam pengembangan kualitas pendidikan, yayasan juga mendorong para guru untuk terus berinovasi dan meningkatkan kompetensi. Menurutnya, seluruh sarana pendukung telah disiapkan sebagai bagian dari komitmen mencetak generasi unggul.
Pemimpin Dunia
Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2014, yayasan melakukan kajian terhadap sistem pendidikan terbaik dunia, termasuk dengan melakukan studi ke Finlandia. Dari hasil kajian tersebut, ditemukan bahwa konsep pendidikan terbaik sejatinya selaras dengan nilai-nilai Islam, seperti kebersihan, kedisiplinan, ketepatan waktu, dan pembentukan karakter.
Selain Finlandia, pihaknya juga melakukan studi ke Turki untuk mempelajari pembangunan peradaban dan karakter umat. Hasil pembelajaran tersebut kemudian diadaptasi ke dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Al Azhar Yogyakarta.
“Kami ingin menghadirkan sistem pendidikan yang memadukan keunggulan global dengan nilai-nilai keislaman,” katanya.
Lebih jauh, Hafidh mengungkapkan visi besar yayasan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin dunia dari Yogyakarta, khususnya dari Al Azhar. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, yayasan, dan orang tua sebagai tiga pilar utama pendidikan.
Di sisi lain, ia juga menyoroti dinamika global yang terus berkembang. Menurutnya, pergeseran kekuatan dunia menuntut generasi muda untuk memiliki daya saing internasional, termasuk dalam penguasaan bahasa asing.
“Selain bahasa Inggris, kami juga mulai menyiapkan pembelajaran bahasa Mandarin sebagai bagian dari kesiapan menghadapi masa depan global,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, yayasan telah menyiapkan lahan seluas sekitar 15 hektare di wilayah Gunungkidul untuk pembangunan kampus masa depan. Kampus tersebut dirancang dengan dua konsep utama, yakni berbasis kurikulum internasional (IB) serta berbasis bahasa dan budaya Mandarin.
Rencana ini pun mendapat sambutan positif dari sejumlah akademisi internasional yang telah berkunjung.
Menutup pernyataannya, Hafidh menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua dan pengurus yang telah mendukung perjalanan pendidikan selama lebih dari dua dekade.
“Semua ini tidak akan berarti tanpa dukungan orang tua. Mari kita bersama-sama mengawal anak-anak kita agar menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, berdaya saing global, dan siap menjadi pemimpin masa depan,” pungkasnya. (Chaidir)







