Prof Eko Kuswardono: Hijrah Menuju Profesionalisme Unggul Kunci Hadapi Era Artificial Intelligence

  • Prof. Eko menegaskan profesionalisme unggul dibangun melalui etos kerja, integritas, dan kemampuan beradaptasi.
  • Agile Leadership dan budaya belajar sepanjang hayat menjadi kunci menghadapi perubahan serta transformasi digital.
  • AI harus dimanfaatkan secara bijak sebagai mitra kerja dengan tetap mengedepankan etika, karakter, dan nilai kemanusiaan.

AYWS – Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat tidak boleh disikapi dengan rasa takut, tetapi harus dijawab dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan integritas, serta semangat belajar tanpa henti.

Pesan tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI), Prof Dr Ir Eko Kuswardono Budiardjo MSc, dalam Kajian Rutin Sabtu Wage Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) yang digelar di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS Sleman, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pembina Yayasan Asram Hj Eni Yustini SE, Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs HA Abdul Hafidh Asrom M.M, para pimpinan BPPH AYWS, para kepala satuan pendidikan, guru, karyawan, serta keluarga besar AYWS.

Mengangkat tema “Hijrah Menuju Profesionalisme Unggul: Menguatkan Etos Kerja, Integritas, dan Adaptasi di Era Perubahan”, Prof Eko mengajak seluruh insan AYWS memaknai hijrah sebagai proses transformasi menuju kualitas diri yang lebih baik. Menurutnya, hijrah tidak sekadar bermakna perpindahan secara fisik, tetapi perubahan pola pikir, budaya kerja, serta komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengabdian.

“Dunia saat ini sedang mengalami perubahan yang luar biasa cepat. Kita sedang berhijrah dari era manual menuju era digital, dari pekerjaan rutin menuju pekerjaan yang berbasis kreativitas, pengetahuan, dan inovasi. Karena itu, profesionalisme bukan lagi pilihan, tetapi menjadi kebutuhan,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Prof Eko mengajak peserta memahami bahwa perkembangan teknologi digital yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjalanan panjang ilmu pengetahuan, mulai dari logika matematika yang diperkenalkan George Boole, konsep komputasi Alan Turing, hingga lahirnya komputer modern, internet, dan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, perubahan teknologi bukan hanya mengubah alat yang digunakan manusia, tetapi juga mengubah cara bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini memasuki era ketika data menjadi salah satu aset terpenting. Namun, melimpahnya informasi justru menuntut kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu memilah informasi yang benar dan bertanggung jawab dalam menggunakannya. Dalam konteks pendidikan, guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Prof Eko juga mengulas berbagai perkembangan teknologi masa depan, termasuk Quantum Computing, Internet of Things (IoT), serta Artificial Intelligence yang diperkirakan akan semakin mengubah berbagai sektor kehidupan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan tersebut harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan sebagai ancaman.

Menurutnya, transformasi digital bukan hanya soal mengganti proses manual menjadi aplikasi, tetapi mengubah cara organisasi berpikir dan mengambil keputusan berbasis data. Organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang paling besar, melainkan organisasi yang paling cepat belajar dan beradaptasi terhadap perubahan.

Lean dan Agile Leadership

Dalam kesempatan tersebut, Prof Eko memperkenalkan konsep Lean dan Agile Leadership sebagai pendekatan kepemimpinan yang relevan di era perubahan. Ia menjelaskan bahwa organisasi modern membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kolaborasi, memberdayakan tim, terbuka terhadap perubahan, dan terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

“Pemimpin hari ini tidak harus mengetahui semua jawaban. Yang jauh lebih penting adalah mampu membangun tim, menghubungkan ide, menciptakan ruang kolaborasi, dan mendorong seluruh anggota organisasi untuk terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsep Servant Leadership, yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan. Seorang pemimpin, menurutnya, bukan hadir untuk dilayani, tetapi bertugas membantu seluruh anggota organisasi bertumbuh dan memberikan kontribusi terbaiknya.

Selain kepemimpinan, Prof. Eko mengajak seluruh keluarga besar AYWS membangun budaya lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Menurutnya, kemampuan belajar akan menjadi kompetensi paling penting di masa depan, karena ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus berkembang.

“Dulu kita belajar untuk mendapatkan ijazah. Hari ini kita harus belajar agar tetap relevan. Orang yang berhenti belajar akan tertinggal, sedangkan mereka yang terus belajar akan selalu mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan,” katanya.

Ia mendorong guru dan tenaga kependidikan memanfaatkan berbagai platform pembelajaran digital seperti video edukasi, kursus daring, hingga teknologi berbasis Artificial Intelligence sebagai sarana meningkatkan kompetensi. Namun demikian, AI harus diposisikan sebagai mitra belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.

Etika Penggunaan AI

Prof Eko memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya etika dalam penggunaan Artificial Intelligence. Menurutnya, AI hanyalah alat yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bertanggung jawab.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga keadilan, menghindari bias, melindungi privasi data, memperkuat keamanan siber, serta memastikan setiap keputusan yang dihasilkan AI tetap berada di bawah kendali manusia.

“Artificial Intelligence tidak memiliki hati nurani. Yang memiliki integritas adalah manusia. Karena itu, AI boleh membantu memberikan rekomendasi, tetapi keputusan akhir tetap harus berada di tangan manusia yang memiliki kebijaksanaan, tanggung jawab, dan nilai-nilai moral,” tegasnya.

Prof Eko menambahkan bahwa kemajuan teknologi justru semakin menegaskan pentingnya karakter, empati, kepemimpinan, dan integritas sebagai kualitas yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Ia mengajak seluruh keluarga besar AYWS menjadikan profesionalisme sebagai budaya kerja sekaligus bentuk pengabdian. Profesionalisme, menurutnya, lahir dari semangat untuk terus memperbaiki diri, menjaga amanah, melayani dengan sepenuh hati, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana demi menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas.

Dengan semangat hijrah menuju profesionalisme unggul, Prof. Eko berharap seluruh insan AYWS mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat, pemimpin yang melayani, serta agen perubahan yang mampu menjawab tantangan era digital tanpa kehilangan nilai-nilai integritas, kemanusiaan, dan akhlak mulia. (Chaidir)