- Berpengalaman membangun sekolah Cambridge. Risvita Rahayu membawa pengalaman lebih dari 10 tahun mengembangkan pendidikan internasional ke HAWS Magelang.
- Mengutamakan karakter dan kemandirian. Pembelajaran difokuskan pada berpikir kritis, literasi, kolaborasi, dan tanggung jawab siswa.
- Siapkan generasi masa depan. HAWS Magelang menerapkan pembelajaran aktif dengan target menjadi Cambridge ID Center pertama di Magelang.
AYWS – Bagi sebagian orang, sekolah internasional identik dengan ruang kelas berbahasa Inggris, logo Cambridge yang terpampang di brosur, atau buku-buku pelajaran dari luar negeri. Namun, bagi Risvita Rahayu, makna pendidikan internasional jauh lebih dalam dari sekadar atribut tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Vita itu percaya, sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar memahami dunia, berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, serta memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi masa depan yang terus berubah.
Keyakinan itulah yang kini ia bawa saat dipercaya memimpin SD (Primary School) Hafidh Asrom World Schools (HAWS) Magelang. Di usianya yang ke-36 tahun, Vita datang bukan hanya membawa pengalaman lebih dari satu dekade mengembangkan sekolah berbasis Cambridge di Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), tetapi juga membawa sebuah misi besar yaitu menghadirkan pendidikan bertaraf internasional yang benar-benar dijalankan dalam keseharian, bukan sekadar menjadi slogan pemasaran.
Perjalanan Vita di dunia pendidikan dimulai pada 2014 ketika bergabung dengan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). Ia memulai di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, kemudian dipercaya di SD Islam Al Azhar 55 Yogyakarta Bilingual. Saat itu, AYWS baru memiliki satu kelas bilingual. Meski sederhana, ia melihat peluang besar untuk membangun sistem pendidikan yang lebih maju.
Langkah demi langkah dilakukan. Bersama tim, mereka mengembangkan kurikulum, meningkatkan kompetensi guru, hingga menjalin kerja sama resmi dengan Cambridge. Tiga tahun kemudian, sekolah tersebut resmi menjadi Cambridge School sekaligus memperoleh status Cambridge ID Center.
Transformasi itu bukan hanya soal administrasi atau pengakuan internasional. Guru-guru mendapatkan pelatihan langsung dari Cambridge, proses pembelajaran mengikuti framework global, sementara sistem penilaian dan evaluasi akademik disusun sesuai standar internasional.
“Banyak orang mengira sekolah Cambridge hanya soal buku pelajaran atau penggunaan Bahasa Inggris. Padahal yang paling penting adalah bagaimana proses belajarnya membentuk cara berpikir anak,” tutur Vita, beberapa hari lalu.
Selama hampir tujuh tahun terakhir, ia dipercaya mengembangkan kurikulum yang memadukan Cambridge Curriculum dengan Kurikulum Nasional. Pendekatan tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Lima angkatan lulusan berhasil meraih predikat Outstanding pada berbagai mata pelajaran Cambridge. Namun, bagi Vita, prestasi akademik hanyalah salah satu indikator keberhasilan.
Menurutnya, dunia beberapa tahun ke depan akan membutuhkan generasi yang mampu beradaptasi, bekerja sama, memecahkan masalah, berpikir kreatif, serta terus belajar sepanjang hidup. Kemampuan-kemampuan inilah yang ingin ia tanamkan sejak anak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Filosofi tersebut kini menjadi fondasi pengembangan HAWS Magelang yang berdiri di kawasan bekas kompleks SMK Yudya Karya, Jalan Ahmad Yani, Kota Magelang. Beragam program dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan nilai rapor, tetapi membangun kebiasaan belajar yang kuat sejak dini.
Program Unggulan Reading Log
Salah satu program unggulannya adalah Reading Log. Melalui program ini, setiap siswa didorong mengunjungi perpustakaan sedikitnya tiga kali setiap pekan. Mereka tidak hanya membaca buku, tetapi juga meminjam, membuat ulasan sederhana, lalu mendiskusikan isi bacaan bersama teman-temannya.
Bagi Vita, kebiasaan membaca merupakan fondasi utama sebelum anak mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih kompleks. Di ruang kelas pun suasana belajar dibuat berbeda. Diskusi kelompok, presentasi, eksplorasi lingkungan sekitar, hingga proyek kolaboratif menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Anak-anak diajak memahami konsep secara utuh, bukan sekadar menghafal jawaban untuk menghadapi ujian.
“Yang kami bangun adalah kemampuan learn how to learn. Anak-anak harus tahu bagaimana cara belajar, bukan hanya mengejar nilai,” ujarnya.
Vita memahami bahwa pendekatan seperti ini mungkin terasa baru bagi sebagian masyarakat Magelang yang selama ini lebih akrab dengan pola belajar berbasis hafalan dan latihan soal. Karena itu, perubahan tidak hanya dilakukan kepada siswa, tetapi juga melibatkan orang tua.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan akan lebih mudah dicapai apabila sekolah dan keluarga memiliki cara pandang yang sama dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
HAWS pun menerapkan sejumlah kebiasaan yang bertujuan melatih tanggung jawab siswa sejak dini. Salah satunya melalui program Weekly Plan, yaitu agenda belajar mingguan yang harus disampaikan sendiri oleh anak kepada orang tuanya, tanpa dibagikan melalui grup WhatsApp.
Sekolah juga memiliki aturan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Orang tua tidak diperkenankan mengantarkan barang yang tertinggal di rumah saat jam belajar berlangsung.
Aturan itu dibuat bukan untuk mempersulit siswa, melainkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab terhadap setiap konsekuensi dari tindakan mereka. “Kami ingin membangun mindset bahwa anak bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Kemandirian itu tidak muncul begitu saja, tetapi harus dilatih sejak usia dini,” jelas Vita.
Ke depan, Vita memiliki harapan besar agar HAWS berkembang menjadi Cambridge ID Center pertama di Magelang. Namun, impian tersebut bukanlah tujuan akhirnya.
Lebih dari sekadar mencetak lulusan dengan nilai akademik tinggi, ia ingin menghadirkan sekolah yang mampu melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat—anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta siap menghadapi tantangan dunia 10 hingga 15 tahun mendatang.
Sebab, bagi Vita, pendidikan terbaik bukanlah yang hanya menghasilkan rapor penuh angka sempurna, melainkan pendidikan yang membentuk manusia yang terus belajar, terus bertumbuh, dan siap menghadapi masa depan dengan percaya diri. (Imron/Chaidir)






