- SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta berkolaborasi dengan Laboratorium Entrepreneur Yayasan Asram menggelar Workshop Visual Storytelling bagi murid kelas X peminatan Technosociopreneurship.
- Murid belajar teknik fotografi, editing video menggunakan perangkat profesional dan CapCut, serta pemanfaatan AI untuk mengembangkan ide dan menghasilkan konten kreatif.
- Workshop ini mendorong murid bertransformasi dari konsumen menjadi kreator digital yang mampu menghasilkan karya audiovisual, mengomunikasikan produk, dan membuka peluang kewirausahaan.
AYWS – Di tengah derasnya arus konten digital, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton, penikmat, atau konsumen teknologi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk menciptakan karya, menyampaikan gagasan, hingga mengubah kreativitas menjadi peluang.
Semangat inilah yang dihadirkan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta melalui program unggulan Technosociopreneurship. Bekerja sama dengan Laboratorium Entrepreneur Yayasan Asram Yogyakarta, sekolah ini menggelar Workshop Visual Storytelling bagi murid kelas X peminatan Technosociopreneurship, Selasa (3/11/2026), di Auditorium Al Hafidh Kampus 1 AYWS, Sleman.
Bukan sekadar pelatihan mengedit foto dan video, workshop ini menjadi ruang bagi murid untuk mengenal lebih jauh bagaimana sebuah ide dapat diolah menjadi cerita visual yang menarik, komunikatif, dan memiliki nilai. Terlebih, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini membuka semakin banyak kemungkinan dalam proses penciptaan konten digital.
Dua praktisi di bidang fotografi dan videografi, Yohanes Baptista SSn MSn dan Ghalif Putra Sadewa SSn MSn, hadir sebagai narasumber untuk membagikan pengetahuan sekaligus pengalaman praktis kepada para murid.
Dalam sesi pelatihan, murid diperkenalkan pada penggunaan perangkat penyuntingan profesional dan aplikasi CapCut. Mereka mempelajari tahapan produksi konten audiovisual, mulai dari menggali ide, menyusun konsep cerita, mengolah footage, mengatur transisi, memilih musik dan audio, hingga menghasilkan video yang menarik dan mampu menyampaikan pesan secara efektif.
Lebih dari sekadar menguasai perangkat editing, murid juga diajak memahami esensi visual storytelling: bagaimana membangun sebuah cerita melalui rangkaian gambar, suara, dan pesan yang saling terhubung.
Kemampuan ini menjadi penting, terutama ketika dikaitkan dengan dunia kewirausahaan. Sebuah produk tidak hanya membutuhkan kualitas yang baik, tetapi juga cara penyampaian yang mampu menarik perhatian dan membangun ketertarikan calon konsumen. Melalui foto dan video yang dikemas secara kreatif, sebuah produk dapat memiliki daya komunikasi yang lebih kuat.
Di sinilah keterampilan visual storytelling menemukan relevansinya dengan semangat Technosociopreneurship yang dikembangkan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta. Murid tidak hanya diperkenalkan pada kreativitas digital, tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat dimanfaatkan dalam pengembangan dan pemasaran produk usaha.
Aspek lain yang membuat workshop ini semakin relevan adalah pengenalan teknologi Artificial Intelligence (AI). Murid diajak mengeksplorasi potensi AI untuk membantu mengembangkan ide, menyusun naskah, menciptakan elemen visual, hingga mendukung proses produksi konten digital.
Kehadiran AI memberikan perspektif baru bahwa teknologi bukan semata-mata sesuatu yang dikonsumsi, melainkan dapat menjadi alat untuk memperluas kreativitas dan menghasilkan karya. Namun, kemampuan manusia dalam menentukan ide, membangun cerita, mengolah pesan, dan menghasilkan karya yang bermakna tetap menjadi bagian penting dari proses kreatif.
Melalui pendekatan praktik langsung, para murid mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan dan menerjemahkannya menjadi karya audiovisual. Mereka didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan membuat video yang menarik secara visual, tetapi juga memahami bagaimana sebuah konten dapat menyampaikan pesan edukatif, inspiratif, bahkan memiliki nilai komersial.
Kolaborasi SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta dengan Laboratorium Entrepreneur Yayasan Asram Yogyakarta menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kebutuhan zaman. Sinergi ini sekaligus membuka ruang bagi murid untuk mengenal kompetensi yang dibutuhkan dalam industri kreatif dan kewirausahaan digital.
Melalui program Technosociopreneurship, SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta terus mendorong tumbuhnya generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga kreatif, kritis, kolaboratif, dan produktif dalam memanfaatkannya.
Pada akhirnya, tantangan generasi digital bukan lagi sekadar seberapa cepat mereka mengikuti perkembangan teknologi, melainkan sejauh mana mereka mampu menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang bernilai.
Dari yang semula hanya menikmati konten, kini murid didorong untuk mulai menciptakan cerita, menghasilkan karya, dan membuka peluang. Sebuah langkah pembelajaran yang menempatkan kreativitas sebagai modal penting untuk menghadapi masa depan. (R Sita P)






