- Silaturahmi hangat: Tim HASNA bertemu Ustadz Anant untuk berbagi pengalaman tentang pendidikan dan kehidupan masyarakat usia senja.
- Gua Hiro: Ustadz Anant membina pesantren lansia dengan konsep “Menata Senja, Meniti Surga” serta kegiatan tiga hari di lokasi berbeda.
- Peluang kolaborasi: Pengalaman Gua Hiro dinilai sejalan dengan semangat HASNA dalam menghadirkan pendidikan, kebersamaan, dan pendampingan bagi lansia.
AYWS – Ada pertemuan yang sejak awal terasa seperti rapat. Namun ada pula pertemuan yang bermula dari silaturahmi sederhana, lalu berkembang menjadi obrolan hangat, berbagi pengalaman, hingga melahirkan gagasan baru. Pertemuan Ustadz Anant dengan tim HASNA (Hafidh Asrom Sekolah Lansia) termasuk di antaranya.
Pada Senin (11/8/2026), tim HASNA yang terdiri atas Dr Yogi E Ginanjar, Ustadz Sujarwo Putra, Muklas Madani selaku Kepala LAZ Al Azhar Yogyakarta, Nurhadi, dan Chaidir berkunjung ke kediaman Ustadz Anant.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Tidak terasa seperti pertemuan formal, percakapan mengalir dari satu cerita ke cerita lainnya. Dari silaturahmi, pembicaraan kemudian berkembang menjadi diskusi tentang kehidupan, usia senja, pembelajaran, spiritualitas, hingga bagaimana menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat lanjut usia.
Di tengah obrolan tersebut, pengalaman Ustadz Anant membina Pondok Pesantren Usia Senja Gua Hiro menjadi salah satu perhatian utama.
Terletak di tepian Sungai Progo, Kalibawang, Kulonprogo, Gua Hiro memiliki cara pandang yang unik terhadap usia senja. Mereka yang datang tidak diposisikan sebagai orang-orang yang sekadar menunggu waktu. Mereka tetap disebut santri. Mereka datang untuk belajar, beribadah, bersilaturahmi, berbagi cerita, sekaligus menata kembali perjalanan hidup.
Gua Hiro bukan panti jompo. Bukan pula sekadar tempat tinggal bagi masyarakat lanjut usia. Pesantren ini dikembangkan sebagai ruang pembelajaran, pendidikan, pelatihan, dan pendampingan bagi masyarakat usia senja untuk memperdalam agama sekaligus mempersiapkan diri menghadapi fase kehidupan berikutnya. Gagasan itu terangkum dalam filosofi “Menata Senja, Meniti Surga”.
Dalam suasana silaturahmi yang semakin cair, Ustadz Anant juga berbagi cerita tentang kehidupan para peserta pengajian di Gua Hiro. Salah satu hal yang menarik perhatian tim HASNA adalah kebutuhan sebagian peserta untuk memiliki teman dan komunitas. Mereka ingin berkumpul, mereka ingin memiliki teman bicara, mereka ingin merasakan kembali hangatnya kebersamaan.
Cerita tersebut menunjukkan bahwa persoalan usia senja tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik atau kebutuhan ekonomi. Ada kebutuhan sosial dan spiritual yang tidak kalah penting, yakni kebutuhan untuk tetap merasa menjadi bagian dari kehidupan. Di sinilah Gua Hiro memiliki kekuatan tersendiri.
Pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam agama, tetapi juga ruang bagi para santri usia senja untuk tetap terhubung dengan orang lain. Ada kajian, ibadah bersama, silaturahmi, percakapan, perjalanan, dan kebersamaan. Dengan demikian, usia senja tidak harus identik dengan kesunyian.
Menariknya, pola kegiatan yang selama ini dibina Ustadz Anant juga dibuat dinamis. Rata-rata kegiatan berlangsung selama tiga hari dan pada setiap bulan dapat dilakukan di tempat yang berbeda.
Perpindahan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Ustadz Anant memahami bahwa para peserta usia senja juga membutuhkan suasana baru agar tidak bosan. Mereka tidak hanya membutuhkan materi pengajian, tetapi juga pengalaman, perjalanan, interaksi, serta kesempatan menikmati kebersamaan dalam lingkungan yang berbeda.
Tiga hari bersama di tempat yang berbeda setiap bulan akhirnya menjadi semacam perjalanan kecil bagi para santri usia senja. Mereka bisa bertemu, berbincang, menikmati suasana baru, dan menciptakan kenangan bersama.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa mendampingi masyarakat usia senja tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat keagamaan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bertemu teman, berbagi cerita, tertawa, menikmati perjalanan, dan merasakan bahwa kehidupan masih menawarkan banyak pengalaman.
Bukan Pelabuhan
Dalam pertemuan dengan tim HASNA, Ustadz Anant juga menyampaikan sebuah perumpamaan yang begitu kuat. “Pondok ini bukan pelabuhan.”
Jika kehidupan diibaratkan sebagai perjalanan sebuah kapal, maka Gua Hiro bukan tempat kapal berhenti untuk selamanya. Sebaliknya, pondok menjadi tempat untuk mempersiapkan kapal agar kembali berlayar.
Maknanya sangat dalam. Para santri usia senja bukanlah manusia yang sudah selesai dengan kehidupannya. Mereka masih memiliki perjalanan. Mereka masih bisa belajar, memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, berbagi, dan memberikan manfaat. “Kapal mereka belum berhenti, kapal itu sedang dipersiapkan untuk kembali berlayar.”
Gagasan tersebut terasa sangat dekat dengan semangat HASNA. Sebab sekolah lansia bukan sekadar kegiatan untuk mengumpulkan orang-orang tua dalam satu forum. Lebih dari itu, HASNA membawa pesan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia dan pendidikan itu sepanjang hayat .
Ketika anak-anak belajar memahami dunia, orang dewasa belajar menjalani kehidupan, maka manusia di usia senja pun masih memiliki kesempatan untuk belajar memahami dirinya sendiri. Belajar bersyukur, belajar memaafkan, belajar berbagi, belajar memperbaiki hubungan dengan sesame, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itulah, penjajakan kerja sama dengan Ustadz Anant sebagai salah satu pembimbing HASNA menjadi lebih dari sekadar kerja sama program. Pertemuan tersebut mempertemukan dua pengalaman dan dua gagasan yang memiliki semangat yang sama yakni menghadirkan ruang yang lebih manusiawi bagi masyarakat usia senja.
Di satu sisi, Gua Hiro telah memiliki pengalaman mendampingi masyarakat usia senja melalui pendekatan keagamaan, sosial, dan kebersamaan. Di sisi lain, HASNA sedang membangun ruang pembelajaran bagi lansia di lingkungan keluarga besar Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) dan Hafidh Asrom World Schools (HAWS).
Keduanya bertemu pada satu keyakinan bahwa usia senja bukan akhir dari proses belajar. Justru pada fase inilah seseorang dapat diberikan ruang yang lebih luas untuk memaknai perjalanan hidupnya.
Dalam pertemuan tersebut, tim HASNA juga mengundang Ustadz Anant untuk mengisi Kajian Rutin Sabtu Wage keluarga besar AYWS. Undangan itu disambut positif. Kehadiran Ustadz Anant nantinya diharapkan dapat memperluas percakapan tentang agama, keluarga, usia, kemanusiaan, dan persiapan spiritual.
Namun lebih dari rencana program, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari pertemuan tersebut, yakni semangat untuk menemani manusia agar tidak merasa sendirian ketika memasuki usia senja. Sebab usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk belajar tidak harus ikut menua.
Senja bukan selalu tanda berakhirnya perjalanan. Senja bisa menjadi waktu untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, memperbaiki arah, memperkuat bekal, kemudian melanjutkan pelayaran. Dan mungkin, itulah makna terdalam dari silaturahmi hangat antara Ustadz Anant dan tim HASNA. Mereka bukan sekadar bertemu untuk membicarakan lansia, mereka bertemu untuk membicarakan manusia tentang bagaimana seseorang tetap dapat belajar, berkumpul, berbagi, memberikan manfaat, dan mendekat kepada Allah, bahkan ketika usianya telah memasuki senja. Sebab pendidikan sepanjang hayat bukan tentang menyiapkan manusia untuk berhenti berlayar.
Pendidikan sepanjang hayat adalah tentang menyiapkan manusia agar semakin siap menemukan arah perjalanan, hingga akhirnya menemukan kembali jati diri dan Tuhannya. (Chaidir)






