- Empat Langkah Strategis: Ustadz Sujarwo Putra memaparkan empat langkah penting membentuk jiwa dermawan santri, yaitu pembinaan bibit unggul, hidden curriculum, ekosistem kondusif, dan pembiasaan berbagi.
- Tahapan Internalisasi Karakter: Proses pembentukan karakter berbagi pada santri dilakukan secara bertahap melalui mendengar, melihat, memahami, hingga konsisten melakukan aksi nyata dalam keseharian.
- Makna Berbagi dalam Islam: Kebiasaan berbagi memiliki cakupan yang luas tidak hanya harta, tetapi juga tenaga, ilmu, hingga senyuman yang memberikan keberkahan serta ketenangan jiwa bagi si pemberi.
AYWS — Pembentukan karakter dan nilai-nilai kepedulian sosial pada diri peserta didik memerlukan pendekatan yang terstruktur, holistik, dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Hal tersebut ditegaskan oleh Ustadz Sujarwo Putra dari Bidang Keagamaan Badan Pengelola dan Pelaksana Harian Al Azhar Yogyakarta World Schools (BPPH AYWS) dalam acara Pembinaan dan Supervisi Keagamaan di Al Azhar Yogyakarta Boarding School (AYBS), Rabu (16/9/2026).
Mengusung materi bertajuk “Menyemai Jiwa Berbagi”, Ustadz Sujarwo memaparkan bahwa kebiasaan memberi tidak dapat tumbuh secara instan, melainkan harus disemai melalui proses pendidikan yang terencana. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan empat langkah strategis yang harus dijalankan oleh para pendidik untuk membentuk karakter dermawan pada diri santri:
- Pembinaan Bibit Unggul: Langkah awal yang berfokus pada pengenalan dan perawatan potensi fitrah kebaikan yang telah dimiliki oleh setiap santri sejak lahir. Tugas pendidik adalah menyiram dan memupuk kebaikan dasar tersebut agar berkembang menjadi sifat dermawan.
- Penerapan Hidden Curriculum (Kurikulum Tersembunyi): Menginternalisasikan nilai kedermawanan tidak hanya melalui materi ajaran di kelas, tetapi lewat budaya sekolah, kebiasaan harian di asrama, aturan implisit, serta keteladanan nyata yang ditunjukkan oleh para ustadz dan ustadzah.
- Penyediaan Ekosistem yang Kondusif: Menciptakan lingkungan asrama, sekolah, dan iklim sosial yang religius, aman, serta saling mendukung. Ekosistem yang positif akan memudahkan para santri untuk terbiasa mengekspresikan rasa empati dan kepedulian.
- Penerapan Jiwa Berbagi: Muara dari seluruh proses pembinaan, di mana dorongan memberi telah menjadi kesadaran internal dan menjelma sebagai karakter serta kepribadian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari santri.
“Untuk sampai pada tahap karakter yang kuat, santri harus dibimbing melalui alur pembiasaan yang bertahap. Mulai dari mendengar dan belajar tentang ajaran berbagi, melihat dan merenungkan teladan di sekitarnya, memahami dan menemukan arti penting kedermawanan, hingga akhirnya secara mandiri melakukan dan menerapkan aksi berbagi dalam keseharian mereka,” ujar Sujarwo di hadapan para peserta pembinaan.
Ia juga mengingatkan bahwa konsep berbagi dalam Islam sangat luas dan tidak terbatas pada pemenuhan materi atau harta semata. Para santri perlu diajarkan bahwa berbagi dapat dilakukan melalui zakat, infak, sedekah, bantuan tenaga, penyampaian ilmu, hingga sikap ramah dan senyuman.
Melalui penekanan empat langkah strategis ini, BPPH AYWS berharap para ustadz dan ustadzah di AYBS dapat bertindak sebagai role model yang aktif menciptakan ekosistem asrama yang saling peduli dan berbagi, sehingga mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. (Chaidir)






