Tingkatkan Mutu Keagamaan, Ustadz Shodiqin Paparkan Delapan Fondasi Akhlak Pendidik

  • Delapan Fondasi Akhlak Guru: H. Muhammad Shodiqin, S.Ag., menegaskan bahwa guru harus memiliki jiwa robbani, niat benar, tawadhu, khosyah, zuhud, sabar, jujur, dan menjadi teladan (uswatun hasanah). 
  • Prinsip Keberkahan 3M: Keberkahan murid diawali dari akhlak guru yang diterapkan melalui prinsip 3M: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. 
  • Pilar Keluarga Barokah: Pembinaan juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga pendidik melalui tujuh pilar keluarga barokah sebagai penopang kinerja di sekolah. 

AYWS — Kualitas pendidikan karakter di lingkungan sekolah Islam sangat bergantung pada keteladanan dan mutu akhlak dari para pendidiknya. Hal tersebut disampaikan oleh H Muhammad Shodiqin SAg, dari Bidang Keagamaan Badan Pengelola dan Pelaksana Harian Al Azhar Yogyakarta World Schools (BPPH AYWS) dalam acara Pembinaan dan Supervisi Keagamaan yang berlangsung di Al Azhar Yogyakarta Boarding School (AYBS), Rabu (16/9/2026). 

Mengusung tema “Bekerja untuk Membangun Keluarga yang Barokah”, Ustadz Shodiqin menegaskan bahwa keberkahan proses belajar-mengajar diawali dari sosok guru yang memiliki akhlakul karimah. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan secara mendalam delapan fondasi utama akhlak guru dalam Islam yang harus dijiwai dan diterapkan oleh seluruh ustadz dan ustadzah: 

  • Berjiwa Robbani: Pendidik hendaknya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas mengajar dan membimbing para santri. 
  • Niat yang Benar: Meluruskan niat dalam bekerja semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah SWT, sehingga setiap tugas yang dijalankan bernilai ibadah. 
  • Tawadhu: Memiliki sikap rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi di hadapan ilmu maupun di depan para peserta didik. 
  • Khosyah: Menanamkan rasa takut dan tunduk secara penuh kepada keagungan Allah SWT dalam setiap tindakan dan keputusan. 
  • Zuhud: Menjalankan amanah mulia sebagai pendidik dengan tidak berorientasi pada hal-hal materialistis semata. 
  • Sabar dan Tabah: Memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi keunikan karakter murid, dinamika dengan orang tua murid, serta berbagai ujian perjuangan dalam mendidik. 
  • Mengedepankan Kejujuran: Bersikap jujur dalam perkataan, perbuatan, serta penyampaian ilmu pengetahuan secara obyektif. 
  • Bisa Menjadi Contoh (Uswatun Hasanah): Menjadi teladan nyata yang dapat dilihat dan ditiru langsung oleh para murid, rekan sejawat, maupun masyarakat. 

“Jika guru sudah berakhlakul karimah, maka ia akan membawa keberkahan bagi para muridnya. Keberkahan ini diawali dari sosok pendidik dan harus dimulai dari prinsip 3M yaitu mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang,” ujar Shodiqin di hadapan para peserta pembinaan. 

Shodiqin juga mengajak seluruh tenaga pendidik untuk melakukan introspeksi diri mengenai kontribusi nyata mereka terhadap lembaga. Menurutnya, seorang pendidik yang berdedikasi akan berusaha membesarkan almamaternya melalui karya dan keteladanan, bukan sekadar menumpang nama besar lembaga. 

Selain penguatan akhlak pendidik, Shodiqin turut mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga para guru melalui tujuh pilar keluarga barokah—seperti ikatan spiritual, komunikasi efektif, hingga pendidikan anak secara Islami—agar tercipta ketenangan jiwa yang mendukung kinerja di sekolah. 

Melalui pembinaan ini, BPPH AYWS berharap seluruh ustadz dan ustadzah di AYBS dapat konsisten menginternalisasi delapan fondasi akhlak tersebut. Dengan demikian, lingkungan asrama tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi tempat penyemaian karakter Islami yang kokoh bagi seluruh santri.  (Chaidir)