SLEMAN – Nuansa hangat dan penuh makna terasa begitu kuat di lingkungan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta pada Jumat (13/2/2026). Tarhib Ramadhan tahun ini tidak hanya menjadi momentum spiritual untuk menyambut bulan suci, tetapi juga menjadi ruang nyata untuk menumbuhkan kepedulian sosial melalui kehadiran para pedagang kecil dan pelaku UMKM di tengah lingkungan sekolah.
Kegiatan diawali dengan apel pagi yang diikuti seluruh murid kelas 7, 8, dan 9 dengan penuh kekhusyukan. Dalam amanatnya, Ustadz Iqbal Ghozali, M.H.I. mengajak para murid untuk mempersiapkan hati, membersihkan diri dari kesalahan, serta menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan harapan akan ampunan Allah SWT. Pesan tersebut menjadi pembuka refleksi bagi seluruh peserta didik untuk menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan memperbaiki diri.
Usai apel, suasana berubah menjadi haru ketika para murid berbaris rapi untuk bersalaman dan saling memaafkan dengan Bapak dan Ibu Guru. Tradisi ini bukan sekadar simbol, tetapi menjadi langkah awal membersihkan hati, menguatkan hubungan, dan menanamkan keikhlasan sebagai bekal memasuki bulan suci.
Namun, ada pemandangan berbeda yang membuat Tarhib Ramadhan tahun ini terasa lebih hidup. Di sudut-sudut kampus, para pedagang kecil tampak hadir dengan wajah penuh harap. Mereka membawa berbagai dagangan sederhana—makanan ringan, minuman segar, hingga jajanan tradisional—yang disambut antusias oleh para murid.
Kehadiran para pelaku UMKM ini bukan tanpa makna. Sekolah sengaja menghadirkan mereka sebagai bagian dari pembelajaran karakter yang nyata. Para murid tidak hanya belajar tentang sedekah melalui teori, tetapi langsung merasakan bagaimana tindakan sederhana seperti membeli dagangan pedagang kecil dapat menjadi bentuk kepedulian yang nyata.
Di balik setiap transaksi, tersimpan nilai empati dan penghargaan terhadap perjuangan para pencari nafkah. Senyum para pedagang yang dagangannya laris menjadi gambaran nyata bahwa kepedulian sekecil apa pun mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Para murid pun belajar bahwa sedekah tidak selalu berupa memberi secara langsung, tetapi juga bisa melalui dukungan terhadap usaha kecil yang menjadi sumber kehidupan banyak keluarga.
Koordinator keagamaan, Fahmi Aziz, S.H., menjelaskan bahwa menghadirkan UMKM merupakan bagian dari upaya memperluas pemahaman murid tentang makna sedekah. Melalui pengalaman ini, para murid diajak melihat bahwa aktivitas ekonomi dapat menjadi ladang ibadah, sekaligus sarana menumbuhkan kepedulian sosial.
Tarhib Ramadhan kali ini pun menjelma menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi jembatan antara nilai spiritual dan realitas kehidupan, antara pendidikan dan empati, antara pembelajaran dan pengamalan. Kehadiran para pedagang kecil di lingkungan sekolah menghadirkan pelajaran berharga bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang berbagi, menguatkan, dan menghadirkan harapan bagi sesama.
Dengan semangat kepedulian yang tumbuh sejak dini, diharapkan para murid tidak hanya siap menyambut Ramadhan secara spiritual, tetapi juga menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan dan mampu membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
(Ratna)







