SLEMAN – Perjalanan panjang itu dimulai pada tahun 2005, ketika Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta baru berdiri dan mulai beroperasi. Di masa-masa awal yang masih sederhana itulah, seorang guru muda bernama Iyut Ayudya, mengambil bagian sebagai salah satu pengajar angkatan pertama. Ia memulai dari titik paling dasar—di KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, sekolah yang menjadi cikal bakal seluruh pengembangan Al Azhar Yogyakarta di kemudian hari.
Saat itu, belum ada gedung megah, belum ada banyak unit, belum pula ada label internasional. Yang ada hanyalah semangat membangun dari nol. Di lingkungan yang sederhana itu, Iyut menjalani hari-harinya sebagai guru, berinteraksi dengan anak-anak, membangun fondasi pendidikan, sekaligus tanpa sadar sedang menanam benih perjalanan panjangnya sendiri.

Dari tahun 2005 hingga 2009, ia mengabdikan diri di jenjang KB-TK. Lalu pada 2009, ia melangkah ke jenjang berikutnya sebagai guru Bahasa Inggris di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta hingga tahun 2013. Di fase inilah perspektifnya mulai berkembang. Ia tidak lagi melihat bahasa Inggris sebagai sekadar mata pelajaran, tetapi sebagai keterampilan hidup yang membuka akses lebih luas bagi siswa.
Kepercayaan terhadapnya terus tumbuh. Pada tahun 2013, Ketua Yayasan Asram/Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BBPH) Al Azhar Yogyakarta, Drs HA Hafidh Asrom MM memberikan amanah besar dengan menunjuknya sebagai Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Jabatan itu dijalankannya hingga tahun 2017. Dalam periode ini, Iyut tidak hanya mengelola sekolah, tetapi juga mulai membaca arah perubahan pendidikan—bahwa dunia sedang bergerak, dan sekolah harus ikut bergerak.
Tahun 2017 menjadi titik yang mengubah segalanya. Pada tahun itu, muncul gagasan besar dari pimpinan yayasan untuk mendirikan sekolah internasional. Gagasan tersebut bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari perjalanan panjang, termasuk studi ke Finlandia—negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia—dan Turki, yang dinilai mampu menggabungkan pendidikan modern dengan nilai budaya dan agama.

Iyut Ayudya (baju hitam) saat masih menjadi guru di KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Dari Finlandia, muncul pemahaman bahwa kualitas pendidikan tidak selalu diukur dari banyaknya tugas dan ujian. Justru dengan pendekatan yang lebih manusiawi—minim tekanan, guru berkualitas tinggi, dan fokus pada kebahagiaan siswa—hasil pendidikan bisa tetap optimal. Sementara dari Turki, terlihat bagaimana sistem pendidikan dapat berkembang secara global tanpa kehilangan identitas lokal dan nilai-nilai religius.
Gagasan besar itu kemudian disampaikan kepada Iyut. Bukan sekadar untuk dijalankan, tetapi untuk dirancang dari awal. Di sinilah perannya berubah secara signifikan. Ia tidak lagi hanya menjadi pelaksana, tetapi menjadi perancang—seorang arsitek dalam dunia pendidikan.
Ia harus memikirkan semuanya yakni desain sistem, arah kurikulum, budaya sekolah, hingga kesiapan sumber daya manusia. Seperti seorang arsitek yang tidak hanya menggambar bangunan, tetapi memastikan bangunan itu kokoh, nyaman, dan sesuai kebutuhan, Iyut menjalankan peran itu dengan penuh kesadaran.
“Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini,” ujarnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026). Kalimat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Kesempatan itu datang bersama tanggung jawab besar.
Tantang Pertama
Tantangan nyata langsung dihadapi. Dalam waktu satu minggu, ia harus menyusun konsep lengkap sekaligus Rencana Anggaran Biaya (RAB). Waktu yang sangat singkat untuk sesuatu yang sangat besar.
“Minggu pertama kami fokus diskusi, konsultasi ke berbagai pihak, menggali referensi. Minggu kedua, semuanya harus sudah konkret—konsepnya jelas, angka-angkanya juga jelas,” kenangnya.
Dalam proses itu, ia tidak bekerja sendiri. Ia berdiskusi, bertanya, mengorganisasi ide, dan menyusun kerangka berpikir yang utuh. Konsep yang ia rancang Adalah sekolah internasional, bukan Sekolah Dasar Islam Bilingual (SDB). Ia menilai dan mengevaluasi sekolah bilingual menemukan keterbatasan yang cukup mendasar. Siswa memang mampu mengerjakan soal dalam bahasa Inggris, tetapi belum tentu mampu berkomunikasi secara aktif.
“Anak-anak itu bisa mengerjakan soal matematika atau IPA dalam bahasa Inggris, tapi ketika diajak ngobrol, mereka diam. Artinya, mereka hidup di atas kertas, tapi belum hidup dalam percakapan,” jelas Iyut.
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan keputusan penting. Jika ingin membangun sekolah internasional yang sesungguhnya, maka bahasa Inggris tidak cukup diajarkan sebagai mata pelajaran. Bahasa harus menjadi bagian dari keseharian.
“Bahasa itu bukan pelajaran. Bahasa itu kebiasaan. Exposure itu kuncinya. Semakin sering terpapar, semakin cepat berkembang,” tegasnya.
Dari situlah konsep sekolah internasional mulai dirancang secara utuh. Bahasa Inggris tidak hanya digunakan di beberapa mata pelajaran, tetapi menjadi bahasa pengantar di seluruh aspek sekolah—dari pembelajaran di kelas, interaksi guru, hingga komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah.
Sekolah yang dirancang tersebut kemudian lahir dengan nama SD Islam Al Azhar 55 Internasional dan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2017/2018. Iyut dipercaya sebagai Kepala Satuan Pendidikan dan memimpin pengembangannya hingga tahun 2022.
Namun, membangun sekolah tidak hanya soal konsep. Ia juga harus memastikan bahwa sistem tersebut realistis dan berkelanjutan. Dari awal, ia sudah memetakan proyeksi keuangan secara rinci.
Tahun pertama diperkirakan mengalami devisit, tahun kedua berkurang. Dan baru pada tahun ketiga mencapai titik impas. Proyeksi jumlah siswa pun sudah disusun yakni 50 siswa di tahun pertama, 100 di tahun kedua, dan 150 di tahun ketiga.
“Kami sudah tahu dari awal bahwa ini tidak langsung untung. Tapi yang penting arah jalannya jelas,” ungkapnya.
Memasuki tahap implementasi, tim kecil mulai dibentuk. Prosesnya cepat, tetapi tetap strategis. Guru-guru dipilih tidak hanya berdasarkan kemampuan, tetapi juga potensi dan sikap. “Yang kami cari bukan yang paling fasih, tapi yang punya kemauan belajar dan sikap positif,” kata Iyut.
Ia menerapkan komposisi tim 70:30—70% sudah siap, 30% masih berkembang. Dengan komposisi ini, ekosistem yang kuat bisa terbentuk, sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan.
Menariknya, seluruh proses ini berjalan berdampingan dengan sistem yang sudah ada. Saat rapat kerja berlangsung, tim besar sekolah tetap berjalan seperti biasa. Di sisi lain, tim kecil ini bekerja di ruang terpisah, merancang sesuatu yang benar-benar baru.
“Hanya tim inti yang tahu arah besarnya. Yang lain belum tentu tahu, karena memang belum masuk dalam prosesnya,” kenangnya.
Literasi Fokus Utama
Dari hasil perumusan tersebut, lahirlah beberapa pilar utama. Literasi menjadi salah satu fokus utama dengan pendekatan berjenjang. Siswa membaca sesuai level, membuat review, dan berkembang secara sistematis. Perpustakaan tidak lagi sekadar ruang, tetapi menjadi pusat aktivitas belajar. Pembelajaran juga tidak lagi bergantung pada buku teks. Siswa diajak belajar dari berbagai sumber—melalui eksperimen, observasi, dan pengalaman langsung.
“Buku teks itu sering mempersempit. Kami ingin anak-anak belajar dari mana saja, kapan saja,” ujarnya.
Pendekatan pembelajaran juga menekankan praktik. Teori tetap ada, tetapi bukan menjadi pusat. Siswa diajak mengalami langsung proses belajar. Di sisi lain, kemandirian menjadi bagian penting. Siswa dilatih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
“Kalau lupa bawa barang, itu bagian dari belajar. Mereka harus belajar merencanakan,” kata Iyut.
Seiring waktu, program ini mulai berkembang. Siswa tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Ini menjadi tanda bahwa sistem yang dibangun mulai mendapat kepercayaan.
Tantangan Memimpin SMP
Di jenjang berikutnya, pengembangan terus dilakukan. Pada tahun 2022 hingga 2024, Iyut yang sudah menyandang gelas MPd dipercaya memimpin SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta. Kemudian sejak 2024 hingga sekarang, ia menjabat sebagai Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 67 Internasional.
Di jenjang SMP, tantangan baru muncul yakni bagaimana menjaga keberlanjutan sekaligus menciptakan diferensiasi. Program-program unggulan pun dikembangkan, mulai dari debat internasional, paduan suara, hingga program immersion ke luar negeri seperti United Kingdom. Selain itu, program community service tetap menjadi bagian penting sebagai bentuk pembelajaran sosial. Kemampuan menulis juga diperkuat sebagai kelanjutan dari literasi di jenjang sebelumnya.
Dalam melihat dinamika siswa, ia memahami bahwa setiap anak memiliki latar belakang berbeda. Ada yang cepat berkembang, ada yang butuh waktu lebih lama. Untuk itu, sekolah menyediakan program matrikulasi dan melakukan pemetaan awal berdasarkan kemampuan bahasa, akademik, dan karakter.
“Biasanya dalam tiga sampai enam bulan sudah mulai terlihat perkembangan, selama ada komitmen,” jelasnya.
Dalam proses penerimaan siswa, pendekatan yang dilakukan juga tidak hanya administratif. Sekolah berdialog langsung dengan orang tua untuk memahami kebutuhan dan kesiapan anak.
“Di awal mungkin tertarik karena fasilitas. Tapi setelah masuk, yang penting adalah kesiapan belajar dan adaptasi,” ujarnya.
Kini, pertumbuhan di jenjang SMP terlihat cukup pesat. Kelas VII telah mencapai tiga kelas, kelas VIII dua kelas, dan jumlah pendaftar terus meningkat. Bahkan untuk tahun ajaran berikutnya diproyeksikan pengembangan hingga lebih banyak kelas ke depan.
Namun, di balik semua perkembangan itu, ada prinsip yang terus dipegang. “Niat itu yang utama. Kalau niatnya kuat, jalannya akan terbuka,” kata Iyut.
Ia juga menekankan pentingnya pertumbuhan bagi seorang guru. “Guru tidak boleh berhenti belajar. Setiap tahun harus ada peningkatan. Kalau tidak, kita akan tertinggal,” tegasnya.
Apa yang dilakukan Iyut sejatinya bukan hanya membangun sekolah internasional. Ia sedang membangun sebuah ekosistem pendidikan yang menggabungkan standar global, nilai lokal, dan kebutuhan individu siswa. Sebuah sistem yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, dan cara berpikir. Dan perjalanan itu masih terus berjalan.
Melanjutkan Studi
Di tengah kesibukannya memimpin dan mengembangkan sekolah, Iyut Ayudya saat ini juga sedang melanjutkan studi pada jenjang doktoral di Universitas Negeri Yogyakarta. Langkah ini menjadi bagian dari komitmennya untuk terus bertumbuh, tidak hanya sebagai praktisi pendidikan, tetapi juga sebagai akademisi.
Dengan perjalanan tersebut, lengkaplah posisinya sebagai seorang pendidik dengan latar belakang keilmuan yang linier—dari pendidikan dasar hingga jenjang doktoral. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa belajar tidak pernah berhenti, bahkan bagi mereka yang telah berada di posisi memimpin.
Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari seluruh perjalanan ini: bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan kepada siswa, tetapi tentang bagaimana seorang pendidik terus belajar, bertumbuh, dan memberi teladan melalui langkah hidupnya sendiri. (Chaidir)







