- SMP Islam Al Azhar 66 Bantul meraih Peringkat I penulisan berita atau rilis pada media web AYWS.
- Tim Jurnalistik melibatkan guru dan murid OSIS untuk mengembangkan kemampuan menulis, wawancara, mengolah fakta, dan publikasi.
- Penghargaan menjadi bukti tumbuhnya budaya literasi melalui kolaborasi dan pengalaman jurnalistik yang nyata di sekolah.
AYWS — Sebuah berita tidak hanya menjadi catatan tentang apa yang telah dilakukan. Di tangan para penulis yang memiliki kepedulian terhadap literasi, berita dapat menjadi jendela yang memperlihatkan berbagai aktivitas, prestasi, dan nilai-nilai pendidikan yang tumbuh di sebuah sekolah. Semangat itulah yang terus dikembangkan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul melalui budaya literasi dan Tim Jurnalistik sekolah.
Upaya tersebut membuahkan apresiasi. SMP Islam Al Azhar 66 Bantul menerima penghargaan sebagai Peringkat I dalam penulisan berita atau rilis pada media web Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), ayws.sch.id. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap konsistensi sekolah dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan berbagai kegiatan melalui tulisan yang informatif dan inspiratif.
Capaian tersebut tidak lahir dari kerja satu orang. Di balik publikasi berbagai berita sekolah terdapat Tim Jurnalistik SMP Islam Al Azhar 66 Bantul yang melibatkan guru dan murid yang tergabung dalam OSIS. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengembangan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Bagi sekolah, kegiatan jurnalistik bukan sekadar aktivitas menulis. Lebih dari itu, jurnalistik menjadi ruang bagi guru dan murid untuk mengembangkan kemampuan mengamati, menggali informasi, melakukan wawancara, menyusun fakta, memilih sudut pandang, serta menyajikan informasi kepada masyarakat secara bertanggung jawab.
Keterlibatan murid OSIS dalam Tim Jurnalistik juga memberikan pengalaman belajar yang nyata. Murid tidak hanya belajar mengenai teori literasi di dalam kelas, tetapi memperoleh kesempatan untuk berhadapan langsung dengan berbagai peristiwa di lingkungan sekolah. Mereka belajar menangkap momen, menemukan informasi penting, berkomunikasi dengan narasumber, dan mengubah sebuah peristiwa menjadi tulisan yang memiliki nilai informasi.
Sementara itu, guru berperan dalam memberikan pendampingan, mengarahkan proses penulisan, melakukan penyuntingan, serta memastikan informasi yang dipublikasikan tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik dan kebahasaan. Kolaborasi antara guru dan murid tersebut menjadikan aktivitas jurnalistik sebagai bagian dari proses pembelajaran yang kontekstual.
Peringkat I dalam penulisan berita di media web AYWS akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah penghargaan. Capaian tersebut menjadi indikator tumbuhnya budaya literasi di SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, sekaligus bukti bahwa kemampuan literasi dapat dikembangkan melalui pengalaman nyata dan kolaborasi.
Melalui Tim Jurnalistik, setiap kegiatan sekolah memiliki kesempatan untuk diceritakan secara lebih bermakna. Prestasi murid, inovasi pembelajaran guru, kegiatan kokurikuler, program literasi, hingga berbagai aktivitas sekolah dapat terdokumentasikan dan menjadi inspirasi bagi warga sekolah maupun masyarakat luas.
Ke depan, budaya literasi tersebut diharapkan terus berkembang. Guru dan murid tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen informasi yang kritis, kreatif, komunikatif, dan bertanggung jawab.
Penghargaan Peringkat I tersebut menjadi pengingat bahwa budaya literasi yang dibangun secara konsisten akan melahirkan karya. Dan ketika guru serta murid berjalan bersama dalam sebuah proses literasi, sebuah berita tidak lagi sekadar tulisan, melainkan menjadi rekam jejak perjalanan sekolah dalam bertumbuh, berkarya, dan menginspirasi. (Argo)






