ADA satu kalimat yang terus diingat Danar Kusuma hingga hari ini.
“Jika kita mengurus Alquran, maka Allah akan mengurus sekolah kita.”
Kalimat itu didengarnya pada tahun 2018 saat melakukan studi banding ke SD Islam Al Azhar 28 Solo Baru. Saat itu mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa kalimat sederhana tersebut kelak menjadi fondasi lahirnya sebuah program yang mengubah wajah sekolah, memperkuat karakter peserta didik, sekaligus menjadi salah satu warisan penting kepemimpinannya di dunia pendidikan.
Bagi Danar, pendidikan tidak pernah sekadar urusan mengajar mata pelajaran. Pendidikan adalah tentang membangun masa depan. Ia harus memiliki arah, identitas, dan nilai yang diperjuangkan.
Karena itulah ketika dipercaya menjadi Kepala SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta pada tahun 2017, ia tidak hanya berpikir bagaimana menjalankan sekolah. Ia memikirkan satu pertanyaan yang jauh lebih besar: “Sekolah ini akan dikenal karena apa?”
Pertanyaan itu muncul pada masa yang tidak mudah. Saat itu terjadi perubahan penting dalam pengembangan sekolah Al Azhar di Yogyakarta. Status sekolah bilingual (dua bahasa) yang selama ini melekat pada SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta dialihkan ke SD Islam Al Azhar 55 Yogyakarta. Konsekuensinya, SDIA 31 harus menemukan identitas baru.
Banyak pemimpin mungkin memilih menjalani keadaan apa adanya. Namun tidak dengan Danar. Ia justru melihat situasi tersebut sebagai momentum untuk melahirkan sesuatu yang berbeda.
“Hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana SD Islam Al Azhar 31 yang merupakan sekolah Islam harus memiliki sesuatu yang khas. Sebab status sekolah bilingual sudah dialihkan ke SD Islam Al Azhar 55. Kalau tidak memiliki pembeda, sekolah akan kehilangan daya saingnya,” kenang Danar dalam wawancara pada Selasa (2/6/2026).
Kegelisahan itulah yang menjadi titik awal lahirnya gagasan besar. Ia mulai memetakan kekuatan sekolah, kebutuhan masyarakat, sekaligus tantangan pendidikan masa depan. Hasil perenungannya membawanya pada satu kesimpulan sederhana namun mendalam yaitu sekolah Islam harus kembali menguatkan hubungan peserta didik dengan Alquran.
Dari situlah lahir ide membangun Kelas Tahfidz. Bukan sekadar program tambahan. Bukan pula ekstrakurikuler biasa. Tetapi sebuah sistem pendidikan yang terintegrasi penuh dalam kehidupan sekolah.
Danar kemudian membawa gagasan tersebut kepada Ketua Yayasan Asram sekaligus Badan Pengelola dan Pelaksana Harian Al Azhar Yogyakarta, Drs HA Hafidh Asrom MM. Respons yang diterimanya di luar dugaan. Gagasan itu disambut baik. Dukungan diberikan. Jalan untuk mewujudkannya mulai terbuka.
Alquran Pembentuk Karakter
Namun Danar memahami bahwa ide besar tidak cukup hanya didukung. Ia harus dirancang dengan matang. Ia melakukan studi banding, berdiskusi dengan berbagai pihak, menyusun kurikulum, menghitung pembiayaan, hingga memetakan sumber daya manusia yang dibutuhkan.
Setahun kemudian, tepat pada 2019, Kelas Tahfidz resmi dibuka. Awalnya hanya satu kelas. Tetapi di situlah sejarah dimulai. Banyak orang mengira tahfidz hanya soal menambah jumlah hafalan. Bagi Danar, pandangan itu terlalu sempit. Ia melihat Alquran sebagai sarana pembentukan karakter. Terutama ketika menghadapi realitas peserta didik yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi baik.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar membuat anak pintar, tetapi membangun kerendahan hati, kedisiplinan, dan akhlak yang kuat.
“Kami ingin Alquran menjadi alat pembentukan karakter. Anak-anak bukan hanya hafal ayat, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Karena itu Kelas Tahfidz dirancang secara berbeda. Komitmen orang tua menjadi syarat utama. Target hafalan dibuat lebih tinggi. Guru khusus disiapkan. Proses pembelajaran diintegrasikan dalam kegiatan sekolah. Bahkan aspek fisik dan psikologis anak ikut diperhatikan.
“Salah satu inovasi yang lahir adalah program tidur siang bagi siswa kelas bawah. Kasur disediakan di kelas. Anak-anak beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan murajaah,” ujarnya.
Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Danar, kualitas hafalan tidak hanya dibangun melalui pengulangan, melainkan juga melalui kondisi fisik yang prima.
“Anak-anak tidak bisa dipaksa terus-menerus belajar. Mereka harus bahagia, sehat, dan nyaman. Dari situ proses belajar akan berjalan lebih baik,” katanya.
Perlahan hasilnya mulai terlihat. Kelas Tahfidz tidak hanya menjadi program unggulan. Ia menjelma menjadi identitas baru sekolah. Identitas yang lahir dari keberanian mengambil jalan berbeda.
Namun kisah Danar tidak berhenti pada Al-Qur’an. Ia adalah sosok yang percaya bahwa pemimpin pendidikan harus berpikir berbasis data. Harus membaca, harus meneliti, dan harus menulis.
Menulis dan Prestasi
Kecintaan terhadap dunia riset membawanya meraih berbagai penghargaan. Mulai dari Juara 1 Penelitian Tindakan Sekolah tingkat Al Azhar Yogyakarta, Juara 2 Kepala Sekolah Berprestasi Kabupaten Sleman, hingga Gold Award National Research Teacher Competition tingkat nasional.
Di balik berbagai penghargaan tersebut terdapat satu kebiasaan yang terus dijaganya yakni menulis. Baginya, menulis adalah cara memperpanjang umur gagasan. Puluhan artikel pendidikan lahir dari tangannya. Ia menulis tentang pendidikan, karakter, literasi, pengelolaan kelas, hingga masa depan sekolah Indonesia.
Pemikirannya juga dituangkan dalam sejumlah buku seperti Mengajarkan Science SD Berdasarkan TIMSS, Think Globally Act Locally, dan buku-buku pembelajaran yang diterbitkan penerbit nasional. “Kalau ide hanya disimpan di kepala, manfaatnya terbatas. Tetapi kalau ditulis, manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak orang,” ujarnya.
Karena itulah, di tengah kesibukan memimpin sekolah, Danar tetap menyediakan waktu untuk membaca dan menulis. Bagi dirinya, seorang pemimpin pendidikan harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Amanah ke Wonosari
Ketika kemudian mendapat amanah memimpin SD Islam Al Azhar 59 Wonosari pada tahun 2024, semangat inovasi itu kembali menemukan ruang baru. Jika di SDIA 31 Yogyakarta ia membangun identitas melalui tahfidz, maka di Gunungkidul ia mengembangkan pendidikan berbasis literasi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menggandeng Desa Wisata Watu Sigar untuk mengajarkan pengelolaan sampah kepada siswa. Anak-anak tidak hanya belajar teori. Mereka terjun langsung memilah sampah, memahami proses daur ulang, hingga melihat bagaimana limbah dapat berubah menjadi produk bernilai ekonomi.
Program tersebut kemudian menjadi penelitian yang mengantarkannya meraih Gold Award dalam National Research Teacher Competition.
Sekali lagi, Danar membuktikan bahwa inovasi sekolah tidak harus lahir dari program mahal. Ia bisa lahir dari persoalan sederhana yang dipecahkan dengan cara kreatif. Kecintaannya pada literasi juga melahirkan gagasan yang tak kalah unik.
Rumah Pena Al Azhar
Ia memperhatikan satu hal yang selama ini luput dari perhatian banyak orang. Lobi sekolah. Ia melihat setiap hari puluhan orang tua menunggu anak-anak mereka di sana. Mereka duduk, berbincang, bermain gawai, lalu pulang.
“Kenapa ruang tunggu tidak kita jadikan ruang belajar?” pikirnya.
Dari pertanyaan sederhana itu lahirlah Rumah Pena Al Azhar. Sebuah perpustakaan yang ditempatkan di area lobi sekolah.
Konsepnya sederhana. Mendekatkan buku kepada manusia, bukan menunggu manusia mendatangi buku, anak-anak dapat membaca dengan mudah, orang tua dapat memanfaatkan waktu menunggu. Ruang publik berubah menjadi ruang literasi. Gagasan tersebut bahkan mendapat apresiasi dari Dinas Perpustakaan Gunungkidul dan diproyeksikan sebagai model percontohan.
Lagi-lagi, Danar menunjukkan bahwa inovasi sering kali lahir dari kemampuan melihat peluang yang tidak dilihat orang lain.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkiprah di dunia pendidikan, Danar Kusuma terus berjalan dengan keyakinan yang sama bahwa sekolah tidak boleh berhenti berinovasi, guru harus terus belajar, pemimpin harus berani berpikir berbeda, dan bahwa Alquran tetap menjadi fondasi terkuat dalam membangun generasi masa depan.
Ketika berbicara tentang berbagai capaian yang diraih, Danar tidak banyak berbicara soal penghargaan. Ia justru lebih sering berbicara tentang anak-anak, tentang karakter, tentang masa depan, pendidikan yang memanusiakan manusia.
Mungkin karena ia memahami satu hal yang sering terlupakan bahwa pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pendidik bukanlah seberapa banyak penghargaan yang terpajang di dinding, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berubah karena gagasan yang ia tanamkan.
Dan dari jejak yang telah ditorehkannya, Danar Kusuma telah menanam lebih dari sekadar program sekolah. Ia sedang membangun peradaban, satu anak, satu kelas, dan satu gagasan pada satu waktu.
Curriculum Vitae
Danar Kusuma MPd lahir di Yogyakarta, 24 April 1985. Menempuh Pendidikan kesarjanan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Yogyakarta, S2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga, kini sedang menempuh S1 Bachelor of Art Arabic and Language Study, International Open University
Pengalaman kerja guru SD Negeri Tahunan Sleman (2009–2012), guru SD Islam Al Azhar 31 (2012–2017), Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta (2017–2024), Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 59 Wonosari (2024–sekarang).
Pengalaman organisasi Ketua K3S Al Azhar se-Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, K3S Al Azhar Jatijaya (2022–sekarang), Sekretaris, FK2SA Al Azhar Yogyakarta (2022–sekarang)
Danar memiliki pengalaman sebagai naras umber atau menjadi pemateri seperti Kuliah Umum Mahasiswa PGSD Universitas PGRI Yogyakarta (2019), pemateri pembekalan mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga (2021), pembekalan mahasiswa PGSD UPI Bandung (2022), pembekalan mahasiswa Pascasarjana UNY (2023), pembekalan calon guru se-Al Azhar Yogyakarta (2024), pembekalan calon pimpinan/kepala satuan pendidikan Al Azhar se-Yogyakarta (2025).
Prestasi yang pernah diraih yaitu Juara 1 Penelitian Tindakan Sekolah se-Al Azhar Yogyakarta (2020), Juara 2 Kepala Sekolah Berprestasi Kabupaten Sleman (2020), Juara Harapan 2 Penelitian Tindakan Sekolah Al Azhar se-Indonesia (2024), Medali Emas National Research Teacher Competition (2025)
Adapun buku-buku karyanya yang pernah ditulis yaitu Super Mudah Pahami Bahasa Indonesia, Matematika, IPA Kelas 4, PT Gracindo Gramedia. Mengajarkan Science SD berdasarkan TIMSS, Inspirator Academy. Think Globally, Act Locally, PT Nyalanesia
Sertifikasi seperti Diklat Asesor Angka Kredit, LPMP DIY (2017), Diklat Calon Pimpinan, LPMP Jakarta (2017), Pendidikan Profesi Guru, Universitas Negeri Yogyakarta (2019), Diklat Penguatan Kepala Sekolah, LP2KS (2021), Agile Coaching, Agile Hijrah Coach (2025). Selain itu banyak karya artikel yang ditulis Danar Kusuma dalam media massa online. (Chaidir)







