Dari Kompetensi ke Solusi Nyata, Dosen UNY Dorong Guru AYWS Rancang PjBL Berbasis Riset dan Kewirausahaan

SLEMAN – Pembelajaran berbasis proyek atau Project-based Learning (PjBL) selama ini kerap dipahami sebagai metode belajar yang berujung pada lahirnya sebuah produk. Siswa diminta membuat poster, video, kampanye, atau karya tertentu, lalu proyek dianggap selesai ketika hasil akhir berhasil dipresentasikan.

Namun, di balik praktik yang selama ini lazim dijalankan di sekolah, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar apakah proyek itu benar-benar membuat siswa belajar? Apakah kompetensi yang seharusnya dikuasai siswa sungguh tumbuh melalui proses tersebut? Dan lebih jauh lagi, apakah proyek itu hadir sebagai jawaban atas persoalan nyata yang dihadapi lingkungan sekitar?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk pelatihan “Dari Kompetensi ke Solusi Nyata: Merancang PjBL Berbasis Riset dan Kewirausahaan” yang disampaikan Drs Joko Priyana MA PhD dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kepada guru-guru SMP, SMA, boarding school, dan pondok pesantren seluruh unit Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) di Auditorium Al Hafidh Kampus 1 AYWS, Selasa (24/6/2026).

Dalam pelatihan tersebut, Joko tidak hanya mengajak peserta memahami ulang konsep PjBL, tetapi juga menantang para guru untuk meninjau ulang praktik pembelajaran yang selama ini berlangsung di kelas. Baginya, PjBL bukan sekadar strategi agar siswa “sibuk” mengerjakan proyek, melainkan pendekatan pembelajaran yang harus dirancang secara sadar agar menuntun siswa menguasai kompetensi akademik, melakukan penyelidikan, dan pada akhirnya menghasilkan solusi yang bernilai bagi kehidupan nyata.

Menggugat PjBL yang Berhenti pada Produk

Sejak awal pelatihan, Joko mengajak para guru masuk ke ruang refleksi. Ia memunculkan pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar bagi dunia pendidikan: jika siswa menghasilkan proyek yang menarik, tetapi kompetensi yang seharusnya dipelajari tidak dikuasai, apakah pembelajaran itu bisa disebut berhasil?

Pertanyaan itu menjadi kritik terhadap praktik PjBL yang selama ini sering terjadi di sekolah. Dalam banyak kasus, proyek tampil memukau di permukaan, tetapi proses belajar di baliknya belum tentu kuat. Ada kalanya siswa berhasil menyusun produk yang rapi dan kreatif, namun tidak benar-benar memahami konsep, teori, atau keterampilan yang seharusnya menjadi inti pembelajaran. PjBL akhirnya lebih menonjolkan “hasil karya” ketimbang “proses belajar”.

Joko juga menyoroti kecenderungan lain yang kerap muncul, yakni dominasi guru yang terlalu besar dalam keseluruhan proses proyek. Topik ditentukan guru, masalah dirumuskan guru, langkah kerja disusun guru, metode penelitian dipilih guru, bentuk solusi ditetapkan guru, bahkan produk akhir pun sudah diarahkan sejak awal. Dalam situasi seperti ini, siswa memang terlihat aktif, tetapi aktivitas mereka lebih menyerupai pelaksana instruksi ketimbang pembelajar yang terlibat penuh dalam proses berpikir.

Bagi Joko, kondisi semacam itu perlu dikoreksi. PjBL seharusnya tidak menjadikan siswa sekadar operator tugas, melainkan subjek yang mengalami proses belajar secara utuh: mengenali masalah, menelaah konteks, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan, lalu merumuskan solusi. Dengan kata lain, proyek bukan tujuan akhir, melainkan wahana agar pembelajaran benar-benar terjadi.

Kompetensi Harus Menjadi Titik Berangkat

Salah satu gagasan paling penting yang ditekankan Joko dalam pelatihan ini adalah perubahan cara memulai PjBL. Selama ini, banyak guru merancang pembelajaran dengan pertanyaan: “Proyek apa yang akan dibuat siswa?” Menurut Joko, cara berpikir seperti inilah yang perlu diubah.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek harus dimulai dari kompetensi, bukan dari produk. Artinya, pertanyaan pertama yang perlu diajukan guru bukanlah bentuk proyek yang akan dikerjakan siswa, melainkan kompetensi apa yang harus dipelajari dan dikuasai siswa melalui pembelajaran tersebut. Setelah kompetensi ditentukan, barulah guru mencari persoalan nyata yang membuat kompetensi itu terasa hidup, penting, dan bermakna.

Di sinilah orientasi PjBL bergeser. Proyek tidak lagi diposisikan sebagai pusat perhatian, tetapi sebagai sarana untuk mempertemukan kompetensi akademik dengan realitas kehidupan. Dengan cara ini, pembelajaran tidak bergerak dari “produk ke materi”, melainkan dari “kompetensi ke konteks”, lalu dari konteks menuju proyek, penyelidikan, dan solusi.

Pendekatan ini penting karena mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang pembelajaran, bukan sekadar ruang produksi tugas. Siswa tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang harus saya buat?”, tetapi juga “Apa yang harus saya pahami?”, “Masalah apa yang sedang saya hadapi?”, dan “Mengapa pelajaran ini penting dalam kehidupan nyata?”

Menjembatani Kompetensi dengan Konteks Autentik

Setelah menempatkan kompetensi sebagai titik berangkat, Joko mengajak guru masuk ke tahap berikutnya: menghubungkan kompetensi pembelajaran dengan konteks autentik. Dalam pelatihan itu, ia menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran sebenarnya memiliki kemungkinan besar untuk dipertemukan dengan persoalan nyata di sekitar siswa.

Pembelajaran Narrative Text dalam Bahasa Inggris, misalnya, dapat dihubungkan dengan menurunnya minat anak-anak membaca cerita rakyat. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar struktur teks naratif sebagai materi bahasa, tetapi juga didorong memahami bagaimana cerita dapat dihidupkan kembali agar relevan bagi generasi muda. Begitu pula materi Ecosystem dalam IPA dapat dipertemukan dengan masalah peningkatan sampah plastik di lingkungan, sehingga konsep ekosistem tidak berhenti sebagai teori, tetapi hadir dalam bentuk kepedulian terhadap persoalan ekologis yang nyata.

Dalam bidang Matematika, kompetensi Statistics dapat dikaitkan dengan fenomena penyebaran hoaks akibat salah membaca data. Di sini, pembelajaran statistik tidak lagi sekadar menghitung mean, median, atau diagram, melainkan juga melatih siswa berpikir kritis terhadap informasi yang beredar. Sementara pada mata pelajaran PAI, materi zakat dapat dihubungkan dengan persoalan distribusi bantuan yang belum tepat sasaran, dan pada Biologi, topik nutrition bisa dipertemukan dengan kebiasaan konsumsi gula berlebihan di kalangan remaja.

Contoh-contoh ini menunjukkan satu pesan penting: kompetensi akademik akan jauh lebih bermakna jika dipertemukan dengan persoalan autentik. Ketika guru mampu menemukan kaitan antara materi pelajaran dan realitas di sekitar siswa, pembelajaran tidak lagi terasa abstrak atau jauh dari kehidupan, tetapi hadir sebagai bekal untuk memahami dan merespons dunia nyata.

PjBL Bermakna Harus Memadukan Proyek, Riset, dan Kewirausahaan

Bagi Joko, PjBL yang kuat tidak cukup hanya berbasis proyek. Ia harus berdiri di atas tiga dimensi yang saling melengkapi, yakni project, research, dan entrepreneurship.

Dimensi project menekankan bahwa siswa belajar melalui praktik langsung. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi mengalami sendiri proses mengerjakan sesuatu. Namun, Joko menegaskan bahwa praktik saja belum cukup. PjBL juga harus memuat dimensi research, yaitu proses inquiry yang membuat siswa belajar melalui pertanyaan, data, bukti, dan penyelidikan. Dalam kerangka ini, siswa diajak berpikir seperti peneliti: mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, memilih metode, menganalisis temuan, dan menarik kesimpulan.

Sementara dimensi entrepreneurship dipahami Joko dalam arti yang lebih luas daripada sekadar aktivitas jual beli. Kewirausahaan, dalam konteks pembelajaran, adalah kemampuan menghadirkan solusi yang bernilai. Proyek siswa harus memiliki manfaat nyata, relevan dengan kebutuhan pengguna atau komunitas, dan kalau mungkin mengandung unsur kebaruan atau inovasi. Dengan kata lain, siswa tidak hanya belajar membuat sesuatu, tetapi belajar menciptakan sesuatu yang berguna.

Dari tiga dimensi inilah PjBL berbasis riset dan kewirausahaan dibangun. Siswa belajar melalui proyek, menguatkan proses berpikir melalui riset, lalu mengarahkan hasil belajarnya pada solusi yang bernilai. Inilah yang membuat proyek pembelajaran tidak berhenti menjadi tugas kelas, tetapi berpotensi menjadi jawaban atas kebutuhan nyata.

Empat Pertanyaan untuk Menguji Kekuatan Sebuah Proyek

Untuk memastikan proyek siswa benar-benar bermakna, Joko menawarkan empat pertanyaan kunci yang harus selalu diajukan guru saat merancang pembelajaran.

Pertama, masalah nyata apa yang hendak diselesaikan? Pertanyaan ini penting agar proyek tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari persoalan konkret yang dapat dipahami siswa. Kedua, siapa yang membutuhkan solusi itu? Dengan bertanya tentang pengguna atau penerima manfaat, proyek tidak lagi dipandang sebagai tugas untuk guru, tetapi sebagai upaya menjawab kebutuhan orang lain atau komunitas tertentu.

Ketiga, manfaat nyata apa yang dihasilkan? Proyek yang baik bukan sekadar selesai dikerjakan, tetapi mampu memberi nilai. Nilai itu bisa berupa pengetahuan baru, perubahan perilaku, efisiensi, peningkatan kesadaran, atau manfaat sosial lainnya. Keempat, apa unsur kebaruan atau transformasinya? Pertanyaan ini mendorong siswa untuk tidak hanya meniru solusi yang sudah ada, tetapi mencoba menemukan pendekatan yang lebih segar, relevan, dan inovatif.

Melalui empat pertanyaan tersebut, Joko seolah mengingatkan bahwa kualitas proyek tidak diukur dari tampilannya saja, tetapi dari kedalaman masalah yang diangkat, ketepatan solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang benar-benar dirasakan.

Merancang Alur PjBL dari Kompetensi ke Solusi

Pelatihan ini tidak berhenti pada tataran gagasan. Joko juga membawa peserta masuk ke wilayah yang sangat praktis, yakni bagaimana menyusun desain pembelajaran secara konkret. Menurutnya, setelah kompetensi dan konteks autentik dipetakan, guru perlu mengubahnya menjadi draft learning design yang utuh.

Desain itu setidaknya harus memuat beberapa komponen penting. Pertama, kompetensi yang hendak dipelajari siswa. Kedua, konteks autentik atau persoalan nyata yang menjadi pintu masuk proyek. Ketiga, proses inquiry yang akan dijalani siswa untuk memahami masalah secara lebih dalam. Keempat, ruang solusi, yakni kesempatan bagi siswa untuk merancang jawaban atas persoalan yang mereka teliti. Kelima, value creation, yaitu bentuk manfaat atau nilai yang diharapkan lahir dari proyek tersebut. Dan keenam, alur pembelajaran, yang mengatur tahapan demi tahapan proses belajar dari awal hingga akhir.

Melalui alur ini, PjBL tidak lagi tampil sebagai tugas besar yang berdiri sendiri, melainkan sebagai rangkaian pembelajaran yang terstruktur. Guru tidak hanya berkata, “Silakan buat proyek,” tetapi merancang bagaimana siswa belajar kompetensi, meneliti masalah, menyusun solusi, dan membagikan hasilnya.

Guided dan Semi-Guided PjBL: Guru Memberi Struktur, Siswa Tetap Punya Ruang

Salah satu tantangan besar dalam PjBL adalah menemukan keseimbangan antara arahan guru dan kebebasan siswa. Jika semua diserahkan kepada siswa tanpa struktur, pembelajaran berisiko berjalan liar dan kehilangan fokus. Sebaliknya, jika semua sudah ditentukan guru, siswa hanya menjadi pelaksana.

Di sinilah Joko menekankan pentingnya model guided/semi-guided PjBL. Dalam model ini, guru tetap memegang peran sebagai perancang struktur pembelajaran, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses. Guru menetapkan kompetensi target, menyiapkan ruang masalah, menawarkan pilihan metode pengumpulan data, menyediakan opsi bentuk produk, menentukan kriteria nilai, serta membuka beberapa kemungkinan media presentasi. Namun, di dalam ruang yang sudah dirancang itu, siswa tetap diberi kesempatan untuk menentukan fokus isu, memilih metode yang paling sesuai, merancang bentuk solusi, dan memutuskan cara terbaik membagikan hasil proyek mereka.

Pendekatan ini menjaga dua hal sekaligus. Di satu sisi, pembelajaran tetap terarah dan terikat pada target kompetensi. Di sisi lain, siswa tetap memiliki agency atau kepemilikan terhadap proyek yang mereka jalankan. Mereka tidak sekadar mengikuti instruksi, tetapi ikut membangun jalannya proses belajar.

Bagi Joko, inilah bentuk pembelajaran yang lebih sehat. Guru hadir bukan sebagai pengendali total, melainkan sebagai desainer ruang kemungkinan. Sementara siswa hadir bukan sebagai penerima tugas, tetapi sebagai pembelajar aktif yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Teacher Decision Map dan Ruang Pilihan dalam Pembelajaran

Untuk memudahkan guru menerapkan pendekatan tersebut, Joko juga memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai Teacher Decision Map. Peta ini membantu guru menentukan area mana yang perlu disiapkan dan pilihan apa saja yang bisa dibuka bagi siswa.

Dalam hal metode inquiry, misalnya, guru dapat menawarkan beberapa opsi seperti observasi, wawancara, survei, eksperimen, atau studi pustaka. Dengan begitu, siswa belajar bahwa ada banyak cara untuk memahami masalah, dan mereka dapat memilih metode yang paling relevan dengan konteks proyeknya.

Hal yang sama berlaku pada bentuk solusi atau produk. Guru tidak harus mengarahkan seluruh siswa pada satu jenis produk yang sama. Sebaliknya, guru bisa membuka berbagai kemungkinan: prototype, kampanye, media edukasi, konten digital, atau model layanan. Pilihan-pilihan ini memberi ruang bagi kreativitas siswa, sekaligus memperlihatkan bahwa solusi atas sebuah masalah bisa hadir dalam bentuk yang beragam.

Melalui peta keputusan ini, peran guru menjadi lebih strategis. Guru tidak sekadar memberi instruksi, tetapi menyiapkan ekosistem belajar yang memungkinkan siswa bergerak, memilih, bereksperimen, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.

Value Creation: Ketika Proyek Harus Menghasilkan Nilai

Pada akhirnya, seluruh rangkaian PjBL yang dirancang Joko bermuara pada satu hal: value creation. Bagi Joko, proyek pembelajaran harus melahirkan nilai yang nyata. Nilai itu bisa berbentuk manfaat sosial bagi komunitas, kontribusi terhadap kelestarian lingkungan, peningkatan efisiensi suatu proses, penguatan kesadaran publik, atau lahirnya solusi baru yang inovatif.

Dengan orientasi seperti ini, proyek siswa tidak berhenti pada penilaian di dalam kelas. Ia bergerak keluar, menyentuh kebutuhan orang lain, dan berpotensi memberi dampak yang lebih luas. Siswa belajar bahwa pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah bukan sekadar untuk menjawab soal, melainkan untuk memahami masalah, merancang solusi, dan memberi manfaat.

Nilai inilah yang membuat PjBL menjadi pembelajaran yang lebih utuh. Ia tidak hanya menumbuhkan keterampilan akademik, tetapi juga membangun kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan keberanian untuk berinovasi.

AYWS Menyiapkan Guru untuk Pembelajaran yang Lebih Autentik

Pelatihan yang diikuti guru-guru SMP, SMA, boarding school, dan pondok pesantren di lingkungan AYWS ini memperlihatkan satu keseriusan penting: upaya menyiapkan guru agar mampu merancang pembelajaran yang tidak sekadar kreatif, tetapi juga bermakna. Di tengah tuntutan pendidikan yang terus berubah, guru tidak cukup hanya menguasai metode, tetapi juga perlu memahami bagaimana sebuah pembelajaran dirancang agar berakar pada kompetensi, relevan dengan kehidupan, dan memberi ruang tumbuh bagi siswa.

Melalui pelatihan ini, para guru AYWS tidak hanya diajak memahami kembali makna PjBL, tetapi juga dibekali kerangka konkret untuk menerapkannya di kelas. Mereka diajak melihat bahwa pembelajaran yang baik tidak berhenti pada aktivitas atau produk, melainkan pada proses berpikir, penyelidikan, dan penciptaan nilai.

Di tangan guru yang mampu merancang PjBL secara tepat, kelas dapat berubah menjadi ruang di mana siswa belajar membaca persoalan di sekitarnya, menghubungkan pelajaran dengan realitas, menyusun solusi, dan berlatih menjadi problem solver sejak dini. Itulah sebabnya pelatihan ini bukan semata-mata membahas metode pembelajaran, tetapi juga menyentuh arah besar pendidikan: bagaimana sekolah menyiapkan generasi yang bukan hanya cakap secara akademik, tetapi juga peka, adaptif, dan mampu menghadirkan solusi bagi kehidupan nyata.

Dari Proyek ke Pembelajaran yang Berdampak

Pada akhirnya, pesan besar yang dibawa Joko Priyana dalam pelatihan di AYWS ini sangat jelas: PjBL tidak boleh berhenti pada proyek yang menarik, tetapi harus menjadi pembelajaran yang menumbuhkan kompetensi, membangun budaya riset, dan melahirkan solusi nyata yang bernilai.

Guru, dalam kerangka ini, bukan sekadar pemberi tugas, melainkan perancang pengalaman belajar. Sementara siswa bukan sekadar pembuat produk, melainkan peneliti muda, pemecah masalah, dan calon inovator yang sedang belajar memahami dunia melalui persoalan-persoalan nyata di sekitarnya.

Jika orientasi ini benar-benar diterapkan, maka proyek di kelas tidak lagi sekadar menjadi kewajiban akademik, melainkan jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan. Dari situlah pembelajaran bergerak: dari kompetensi menuju solusi nyata. (Chaidir)