Dua Dekade Pengabdian Pak Shod : Dari Istikharah Meraih Keberkahan

SLEMAN – Setiap lembaga besar selalu memiliki cerita kecil di awalnya—cerita tentang perjuangan, kerja keras, keterbatasan, dan segelintir orang yang memilih tetap percaya.

Di Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta, salah satu cerita itu bermula pada akhir 2005. Saat itu, sebuah sekolah kecil bernama KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta baru saja berdiri. Belum ramai, belum mapan. Namun di sanalah, Muhammad Shodiqin SAg mulai menapakkan langkahnya. Perannya sederhana yaitu pembimbing pelajaran agama untuk para guru.

Ia tidak datang sebagai pegawai tetap. Statusnya masih “nyambi”, karena di waktu yang sama ia tetap mengajar di sekolah lain. Tapi justru dari keterbatasan itulah, tampak bahwa kehadirannya bukan didorong oleh kepentingan, melainkan panggilan.

Di balik berdirinya sekolah itu, ada sosok visioner, Drs HA Hafidh Asrom MM—tokoh pendidikan Yogyakarta yang menanamkan mimpi besar tentang pendidikan berbasis nilai. Mimpi itu tidak berhenti di jenjang taman kanak-kanak. Memasuki tahun 2006, langkah berikutnya disiapkan mendirikan sekolah dasar.

Seperti banyak proses awal, fase ini dipenuhi dengan kerja keras yang jarang terlihat publik. Pendirian SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta dipercayakan kepada Sumali sebagai pimpinan di Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH). Salah satu agenda pentingnya adalah rekrutmen guru.

Mei 2006, ratusan pelamar datang mengikuti seleksi. Mereka membawa harapan, bersaing untuk menjadi bagian dari sekolah yang bahkan masih dalam tahap merintis. Tes demi tes dilalui. Nama-nama yang lolos mulai ditetapkan.

Namun di tengah proses itu, ada satu keputusan yang berbeda. Untuk posisi guru agama, nama Muhammad Shodiqin justru tidak melalui jalur seleksi seperti yang lain. Ia dipanggil secara khusus. Sebuah bentuk kepercayaan yang tidak biasa.

“Waktu itu saya sampaikan kepada Pak Sumali bahwa saya masih mengajar di sekolah lain,” kenangnya. “Tapi beliau meminta dengan sangat, bahkan tanpa tes.”

Permintaan itu bukan sekadar ajakan. Ia adalah penegasan bahwa dalam membangun sebuah lembaga, ada saatnya kepercayaan menjadi lebih penting daripada prosedur.

Namun Shodiqin tidak serta-merta menerima. Ia memilih berhenti sejenak, menimbang dengan hati, memohon petunjuk melalui istikharah. Keputusan akhirnya sederhana ia menerima. Dan dari situlah, sebuah perjalanan panjang dimulai.

Setelah menerima amanah itu, langkah berikutnya membawa Shodiqin berkomunikasi dengan Suhartini, yang saat itu disiapkan sebagai kepala sekolah. Dari sinilah ia mulai masuk lebih dalam ke sistem dan arah pendidikan yang akan dibangun.

Tidak lama kemudian, ia bersama para guru lain yang telah lolos seleksi—Gunadi, Norma, Sinta, Puspa, dan Fillika—dikirim ke Jakarta. Tujuannya bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi pembekalan nilai.

Di kantor pusat Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar, mereka menjalani pelatihan selama sepekan. Di sana, mereka belajar bukan hanya tentang kurikulum atau metode mengajar, tetapi tentang ruh pendidikan Al Azhar—bahwa menjadi guru berarti siap menjadi teladan.

Pelatihan itu menjadi titik penting. Ia menyatukan visi, memperkuat fondasi, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa mereka bukan sekadar pekerja, tetapi perintis.

Namun tantangan terbesar justru datang setelah pelatihan selesai. Juni 2006. Waktu semakin dekat ke tahun ajaran baru. Satu persoalan mendasar muncul harus mencari dan mendapatkan murid.

Dalam kondisi seperti itu, batas antara tugas dan pengabdian menjadi kabur. Para guru tidak lagi hanya menunggu di kelas, tetapi turun langsung ke lapangan.

Mereka menjadi wajah sekolah.

Shodiqin termasuk yang bergerak aktif. Dari satu taman kanak-kanak ke taman kanak-kanak lain, ia memperkenalkan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta kepada para orang tua dan calon siswa.

Tidak selalu mudah. Tidak selalu berhasil. Tapi mereka tidak berhenti. Hingga akhirnya, usaha itu berbuah yakni 50 murid berhasil didapatkan. Angka yang mungkin tampak kecil hari ini, tetapi saat itu adalah hasil dari kerja keras, kesabaran, dan keyakinan.

Dari pengalaman itu, Shodiqin menarik satu pemahaman yang terus ia pegang hingga kini bahwa setiap guru adalah marketing sekolah. Bukan dalam arti menjual, tetapi membangun kepercayaan.

Tahun 2006 menjadi tonggak penting. Untuk pertama kalinya, Al Azhar Yogyakarta memiliki dua unit pendidikan yaitu KB-TK dan SD.

Di tengah pertumbuhan itu, Shodiqin mengambil peran yang tidak hanya administratif, tetapi juga spiritual. Ia menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan keagamaan di sekolah.

Salah satu inisiatif awal, bersama kepala sekolah, yang dilakukan adalah penyelenggaraan manasik haji bagi para murid—sebuah program yang menjadi amanat dari YPI Al Azhar. Kegiatan itu dilaksanakan di halaman Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Di sana, anak-anak belajar tentang rukun Islam dengan cara yang nyata. Mereka berjalan, meniru prosesi ibadah, dan tanpa sadar mulai memahami makna yang lebih dalam tentang hubungan manusia dengan Tuhannya.

Sejak saat itu, manasik haji menjadi tradisi. Dan Shodiqin tetap menjadi bagian dari proses itu hingga hari ini.

Dua puluh tahun berlalu.

Banyak hal berubah. Sekolah berkembang, jumlah murid bertambah, sistem semakin mapan. Namun ada satu hal yang tetap yaitu kesetiaan.

Shodiqin masih berada di jalur yang sama. Ia masih mengajar agama, masih membimbing manasik, dan kini juga mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Syiar dan Dakwah Bidang Keagamaan BPPH.

Ketika berbicara tentang perjalanan panjang itu, ia tidak menonjolkan pencapaian. Ia memilih satu kata yang sederhana yakni “keberkahan” .

“Alhamdulillah, saya merasa mendapat berkah. Selama di Al Azhar saya sudah melaksanakan ibadah haji dan umrah,” tuturnya.

Sebuah kalimat yang mungkin singkat, tetapi menyimpan perjalanan batin yang panjang. Seolah ada hubungan yang tidak kasat mata antara ketulusan mengabdi dan limpahan yang diterima.

Di akhir percakapan, Shodiqin menyampaikan sebuah pemikiran yang merangkum seluruh perjalanan hidupnya: “Semua guru adalah guru agama.”

Kalimat ini bukan sekadar konsep. Ia adalah cara pandang. Bahwa mendidik tidak hanya terjadi di mata pelajaran tertentu, tetapi dalam setiap sikap, setiap kata, setiap interaksi.

Dan mungkin, di situlah inti dari semua ini. Bahwa sebuah lembaga tidak hanya dibangun oleh sistem, tetapi oleh manusia-manusia yang menjaga nilai di dalamnya.

Dari rekrutmen yang penuh harapan, pelatihan yang membentuk arah, perjuangan mencari murid, hingga perjalanan panjang dua dekade—semuanya menyatu dalam satu benang merah yaitu kepercayaan yang dijalani dengan kesetiaan. Dari situlah, keberkahan menemukan jalannya. (Chaidir)