Menjemput Cahaya dari Para Ulama: Perjalanan Santri Tahfidz Menyambung Keberkahan

SOLO – Ada pelajaran yang tak pernah diajarkan di dalam kelas—pelajaran tentang duduk dengan takzim di hadapan ulama, tentang diam yang penuh makna saat nasihat dilantunkan, dan tentang air mata yang jatuh tanpa diminta ketika hati tersentuh. Pelajaran itulah yang dijemput oleh para santri Kelas Tahfidz 9 Al Jazari, SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, dalam sebuah perjalanan yang mereka sebut: Sowan Ziarah Ulama.

Jumat lalu (10/4/2026) bukan sekadar tanggal dalam kalender. Ia menjadi penanda langkah awal sebuah perjalanan batin—ketika para penghafal Al-Qur’an muda ini meninggalkan rutinitas kelas, menuju Surakarta, kota yang menyimpan jejak panjang para ulama dan penjaga sanad keilmuan.

Di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin, pagi menyambut dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Namun, ketenangan itu berubah menjadi getaran jiwa ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema melalui metode Qiraat Sab’ah.

Bagi banyak santri, ini bukan sekadar pengalaman baru—ini adalah perjumpaan pertama dengan wajah lain dari Al-Qur’an. Bahwa kitab suci itu tidak hanya dihafal, tetapi diwariskan dengan sangat hati-hati, dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, hingga tersambung kepada Rasulullah SAW.

KH AM Musta’in Nasoha Al Hafizh kemudian menguatkan pemahaman itu dengan pesan yang tegas namun menyejukkan.

“Jangan pernah merasa cukup hanya dengan hafalan. Dunia membutuhkan santri yang luas ilmunya, yang mampu berdiri di tengah perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar keislamannya.”

Beliau menanamkan tiga hal yang menjadi napas seorang hafidz yaitu akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Sebab tanpa itu, hafalan hanyalah rangkaian kata tanpa jiwa.

Puncak haru hadir saat beliau memberikan ijazah khusus tentang metode menjaga hafalan. Sebuah warisan tak kasat mata, tetapi bernilai sangat tinggi—karena di dalamnya tersambung sanad, doa, dan keberkahan para ulama.

Meneguhkan Adab di Hadapan Kiai Sepuh

Perjalanan berlanjut ke Pondok Pesantren Al Muayyad. Di tempat ini, suasana terasa lebih hening, lebih dalam. Para santri bersiap untuk sowan kepada KH Abdur Razaq Shofawi Al Hafizh.

Tak banyak kata yang beliau sampaikan, namun setiap kalimat seperti mengetuk kesadaran.

“Jangan pernah lelah belajar. Dan jangan pernah lalai menjaga adab.”

Sederhana, tetapi menghujam. Para santri mendengarkan dalam diam—sebuah diam yang penuh penghormatan, sekaligus perenungan.

Langkah berikutnya membawa mereka ke makam KH. Umar Abdul Manan. Di sana, doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk sang ulama, tetapi juga untuk diri mereka sendiri—agar mampu melanjutkan jejak perjuangan yang telah ditinggalkan.

Perjalanan dilanjutkan ke makam Habib Muhammad Anis Al Habsyi. Suasana menjadi semakin syahdu. Tahlil dan tawassul mengalir, seakan menghubungkan langit dan bumi dalam satu garis doa.

Di tempat-tempat sunyi itulah, para santri belajar bahwa ilmu bukan hanya tentang memahami, tetapi juga tentang menghormati dan mengenang.

“Ini bukan sekadar ziarah,” ujar Ustadz Alvin Haq Shirothie. “Ini adalah cara kami mengajarkan bahwa ilmu memiliki akar, dan akar itu adalah para ulama.”

Sujud Terakhir di Syeikh Zayed

Perjalanan ditutup dengan shalat Jumat di Masjid Raya Syeikh Zayed Solo. Di bawah kemegahan arsitekturnya, para santri bersujud dalam diam—mungkin dengan hati yang telah berubah. Lebih tenang. Lebih dalam. Lebih sadar.

Dari perjalanan ini, para santri tidak membawa oleh-oleh dalam bentuk benda. Mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu rasa hormat yang tumbuh, semangat yang menyala, dan kesadaran bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an adalah amanah besar.

SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta melalui program ini kembali menegaskan komitmennya: mencetak generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga kokoh dalam akhlak, luas dalam wawasan, dan jelas dalam sanad keilmuannya.

Dan di antara langkah pulang itu, terselip satu harapan sederhana—semoga keberkahan para ulama terus mengalir, mengiringi perjalanan mereka, hingga suatu hari nanti, mereka pun menjadi bagian dari mata rantai kebaikan yang tak terputus. (Alvin)