Gunungkidul Siap Go Global, Bupati Endah Sambut Rencana Sekolah Internasional Berbasis Islam

WONOSARI — Langkah besar menuju panggung global mulai dirancang dari jantung pemerintahan daerah. Pada Rabu (15/4/2026), Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih SE MP dan jajaran Pemda menerima audiensi penting pembina Hafidh Asrom Yogyakarta Foundation (HAYF), Drs HA Hafidh Asrom MM bersama Ketua HAYF Eni Yustini SE dan tim, di ruang rapat Bupati.

Pertemuan tersebut menjadi titik awal pembahasan rencana ambisius pembangunan lembaga pendidikan internasional berbasis Islam di Kalurahan Beji, Kapanewon Pathuk. Dalam paparannya, Hafidh Asrom menegaskan visi besar yang ingin diwujudkan. “Saya ingin membawa nama Gunungkidul untuk dunia dalam bidang pendidikan,” tegasnya.

Sekolah yang dirancang bukan sekadar institusi pendidikan biasa. Konsepnya mengusung sekolah global berbasis nilai-nilai Islam, dilengkapi dengan pondok pesantren modern (boarding) serta fokus penguatan bahasa Mandarin sebagai bekal daya saing internasional. Persiapan pun disebut terus berjalan, termasuk proses pembebasan lahan.

Hafidh juga memaparkan rekam jejaknya dalam membangun Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) yang kini telah berkembang menjadi 19 unit dengan jejaring global. Pengalaman tersebut menjadi modal kuat untuk merealisasikan proyek pendidikan berskala internasional di Gunungkidul.

Respons positif langsung datang dari Bupati Endah dan jajaran. Ia bahkan menyebut rencana tersebut sebagai “berkah luar biasa” yang sejalan dengan visi pembangunan daerah. “Kami memiliki komitmen kuat untuk mendukung pengembangan dunia pendidikan,” ujar Endah.

Ia memastikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait—mulai dari perizinan, lingkungan hidup, tata ruang, pertanian, pendidikan hingga perhubungan—akan disinergikan guna memperlancar proses dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Lebih dari sekadar proyek pembangunan, Bupati Endah melihat ini sebagai bagian dari ekosistem besar yang tengah disiapkan. Pemerintah daerah, kata dia, juga merancang pembangunan pendukung seperti fasilitas kesehatan dan kawasan pendidikan terpadu.

Kedekatan emosional dengan dunia pendidikan Islam juga menjadi alasan kuat dukungan tersebut. Endah mengungkapkan bahwa keluarganya merupakan bagian dari ekosistem pendidikan Al Azhar, yang telah memberi fondasi kuat hingga mampu mengantarkan ke jenjang internasional.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa pembangunan di Gunungkidul harus tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan. Dengan karakter wilayah yang didominasi kawasan karst dan hutan, keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan menjadi hal mutlak.

Komitmen itu tercermin dalam berbagai kebijakan yang telah dijalankan, mulai dari pengurangan penggunaan kertas, penggantian karangan bunga dengan tanaman hidup, hingga kewajiban penggunaan produk lokal dalam setiap kegiatan pemerintahan.

Tak hanya itu, Pemkab juga mendorong gerakan kemandirian pangan melalui prinsip “menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam”, sekaligus memperkuat sektor pertanian yang kini menyumbang sekitar 25 persen pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam bidang sosial dan lingkungan, berbagai gerakan kolektif seperti bersih sungai, kerja bakti, serta edukasi sejak dini terus digencarkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.

Mengutip pesan Soekarno, Bupati Endah menutup optimisme besar terhadap masa depan Gunungkidul. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika niat baik dan tekad kuat, insyaAllah jalan akan dimudahkan.”

Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan tokoh pendidikan, Gunungkidul kini tidak hanya menatap pembangunan lokal, tetapi juga bersiap menempatkan diri sebagai pusat pendidikan unggulan yang diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional. (Chaidir)