Jejak Sunyi Mery Syufiati : 29 Tahun Mengabdi Selalu Diiringi Rasa Syukur

SLEMAN – Tidak semua kisah besar dimulai dari panggung yang terang. Sebagian justru lahir dari ruang-ruang sunyi, dari meja kerja sederhana, dari tangan-tangan yang tekun mengerjakan hal-hal kecil yang kelak menjadi fondasi besar. Kisah itu hidup dalam perjalanan seorang perempuan bernama Mery Syufiati.

Hari-harinya kini dihabiskan di ruang sekretariat KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Sebuah sekolah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Asram, lembaga yang didirikan oleh Drs HA Hafidh Asrom MM—sosok yang tak hanya membangun institusi pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai pengabdian dalam setiap langkah orang-orang di sekitarnya.

Namun, perjalanan Mery tidak dimulai dari dunia pendidikan. Ia mengawali kisahnya pada tahun 1997, di Jakarta. Saat itu, ia bekerja di Asram Furniture, sebuah usaha mebel milik Hafidh Asrom yang berlokasi di kawasan Pasar Minggu. Di tempat itulah Mery belajar banyak hal—menjadi admin, membantu pemasaran, hingga mengelola keuangan. Dunia yang keras, penuh target, dan menuntut ketelitian, justru menjadi sekolah kehidupan baginya.

Selama enam tahun ia ditempa di sana, sebelum akhirnya pada tahun 2003, ia diminta pindah ke Yogyakarta untuk membantu di PT Matarindo—perusahaan mebel lain milik Hafidh Asrom yang berdiri di Ring Road Barat, Gamping, Sleman. Perusahaan ini bukan sekadar unit bisnis, tetapi bagian dari sejarah panjang perjalanan Hafidh Asrom sebelum fokus membangun dunia pendidikan.

Sejarah itu bahkan bersinggungan dengan sosok besar Keraton Yogyakarta, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono X. Hubungan yang terjalin dari sebuah pertemuan sederhana di pameran mebel pada akhir 1980-an berkembang menjadi kepercayaan besar—mulai dari penataan rumah pribadi hingga keterlibatan dalam persiapan penobatan Sultan. Dari kepercayaan itulah, Hafidh Asrom mendapatkan sebidang lahan yang kelak menjadi pusat industri Matarindo—dan di masa depan bertransformasi menjadi ruang edukasi dan pengembangan.

Di tengah denyut aktivitas perusahaan itulah, Mery menjalani perannya. Ia dipercaya menjadi bagian penting dalam penggajian karyawan dan administrasi. Pekerjaan yang mungkin terlihat biasa, tetapi sesungguhnya membutuhkan kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab besar.

Namun, takdir kembali membawanya ke jalur yang berbeda. Masih di tahun yang sama, 2003, Hafidh Asrom mendirikan Yayasan Asram. Meski masih bekerja di PT Matarindo namun Mery diminta untuk membantu dalam proses berdirinya berdirinya KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta yang beralamat di Ring Road Utara, Yogyakarta. Proses itu terjadi dalam tahun 2003 setelah Hafidh Asrom mendirikan Yayasan Asram pada 30 Agustus 2003 dan bekerjasama dengan Yayasan Pusat Pengembangan Islam Mataram (YPPIM) yang diketuai Drs H Suprastowo kemudian menjalin kerja sama dengan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar untuk mendirikan Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta.

Dari sinilah cikal bakal berdirinya KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta dimulai. Belum ada gedung, tanpa guru, bahkan tanpa pengalaman di dunia pendidikan—Mery diminta untuk ikut mengawal proses kelahiran sekolah itu. Ia tidak menolak. Sebaliknya, ia belajar. Dari nol.

Salah satu langkah penting yang ia lakukan adalah menghubungi Suhartini (kini Wakil Kepala Bidang Akadamik BPPH Al Azhar Yogyakarta World Schools)—calon kepala sekolah yang saat itu masih bertugas di Solo. Percakapan pertama mereka bahkan diwarnai rasa tidak percaya. “Benarkah Al Azhar akan berdiri di Yogyakarta?” begitu kira-kira respons awal yang ia terima.

Namun dari percakapan itulah, proses panjang dimulai. Mery mulai menggali informasi—bagaimana membuat sistem pendaftaran siswa, bagaimana menyusun promosi, bagaimana mengenalkan sekolah yang bahkan belum memiliki bangunan. Ia memesan brosur dan spanduk promosi, dan menyebarkan kabar tentang sekolah yang “belum ada” itu ke berbagai sudut kota.

Satu tahun penuh ia bekerja dalam ruang yang sunyi di gedung yang dibangun oleh Yayasan Pusat Pengembangan Islam Mataram (YPPIM). Tahun 2004 menjadi masa di mana promosi dilakukan secara masif, meski gedung baru akan dibangun pada tahun berikutnya (2005). Kantor operasional pun masih di Gedung YPPIM, menjadi pusat informasi sekaligus tempat pendaftaran siswa baru.

Ia tidak sendiri, tetapi juga tidak banyak teman. Bersama beberapa orang dari YPPIM (Sumali RD dan Sudibyo Sulistyo) dan dari Asram Furniture yaitu HR Endhar Satwo Prihaton yang mengurus bagian keuangan, Mery menjadi bagian dari barisan awal yang membuka jalan.

Dan hasilnya mulai terlihat. Pada 5 Januari 2005, ia resmi diminta fokus penuh di Al Azhar. Keputusan itu menandai babak baru dalam hidupnya—meninggalkan dunia industri menuju dunia pendidikan. Dua bulan kemudian, tepatnya 13 Maret 2005, peletakan batu pertama dilakukan. Sebuah tanda bahwa mimpi itu mulai berwujud nyata.

Waktu berjalan cepat. Tanggal 16 Juli 2005, gedung sekolah diresmikan. Dua hari kemudian, Senin 18 Juli 2005, suara anak-anak mulai memenuhi ruang kelas. Hari pertama kegiatan belajar mengajar resmi dimulai.

Jumlah siswa angkatan pertama? 63 anak. Sebuah angka yang mungkin kecil, tetapi menyimpan harapan besar. “Alhamdulillah Angkatan pertama ada 63 murid,” ujarnya.

Bagi Mery, angka itu bukan sekadar data. Itu adalah hasil dari doa, kerja keras, dan keyakinan bahwa sesuatu yang dimulai dari nol bisa tumbuh menjadi sesuatu yang berarti.

Tahun demi tahun berlalu. Sekolah berkembang. Jumlah siswa meningkat. Sistem semakin rapi. Gedung bertambah. Nama Sekolah Islam Al Azhar semakin dikenal di Yogyakarta. Dan Mery tetap di sana.

Kini, setelah hampir tiga dekade sejak pertama kali ia bekerja pada tahun 1997, Mery masih setia menjalankan perannya. Tidak di panggung depan, tidak dalam sorotan, tetapi tetap menjadi bagian penting dari roda yang terus berputar. Ia tidak banyak bicara tentang pencapaian. Yang ia rasakan justru sederhana—rasa syukur.

Bahwa perjalanan panjang itu tidak sia-sia. Bahwa setiap langkah kecil yang ia ambil dulu kini telah menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Dan bahwa pengabdian, jika dijalani dengan tulus, akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan.

“Alhamdulillah,” ujarnya pelan, “saya selalu bersyukur… sejak di Jakarta tahun 1997 sampai sekarang tetap nyaman.”

Dalam kalimat sederhana itu, tersimpan sebuah makna yang dalam bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, tetapi tentang seberapa tulus kita bertahan dan memberi arti di setiap langkah perjalanan. (Chaidir)