Hafidh Asrom: AYWS Tidak Sekadar Meluluskan Siswa, tetapi Menyiapkan Calon Pemimpin Dunia

SLEMAN – Ketua Yayasan Asram/Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Drs HA Hafidh Asrom MM, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian nilai akademik semata. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan, memiliki karakter kuat, berwawasan global, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Pesan tersebut disampaikan Hafidh Asrom dalam acara Akhirussanah dan Pelepasan Siswa Angkatan XIII SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta yang digelar di Ballroom Hotel Ambarrukmo Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Di hadapan para siswa, orang tua, guru, dan tamu undangan, Hafidh menyampaikan bahwa setiap prosesi kelulusan sejatinya bukan hanya perayaan keberhasilan menyelesaikan pendidikan di satu jenjang, tetapi juga momentum untuk mempersiapkan langkah menuju masa depan yang lebih besar.

“Kita berkumpul hari ini bukan sekadar melepas siswa yang lulus SMP. Kita sedang mengantarkan anak-anak kita menuju masa depan untuk menjadi calon pemimpin dunia yang berakhlak karimah,” ujarnya.

Menurut Hafidh, tantangan yang akan dihadapi generasi muda pada masa mendatang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Dunia bergerak sangat cepat dengan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, big data, dan perubahan sosial yang terus berlangsung.

Karena itu, lembaga pendidikan harus mampu beradaptasi dan menyiapkan peserta didik dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ia menjelaskan bahwa AYWS membangun pendidikan berbasis ekosistem yang terintegrasi, mulai dari Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, SMA hingga boarding school. Model pendidikan berkelanjutan tersebut memungkinkan pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kompetensi siswa dilakukan secara lebih terarah dan berkesinambungan.

“Anak-anak tidak cukup hanya diberikan teori. Mereka harus memiliki ruang untuk berlatih, mencoba, gagal, bangkit kembali, dan menemukan potensi terbaiknya. Karena itulah kami membangun berbagai laboratorium kehidupan,” katanya.

Laboratorium Kehidupan

Hafidh menjelaskan bahwa konsep laboratorium kehidupan menjadi salah satu ciri khas pendidikan yang dikembangkan AYWS. Para siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman nyata melalui berbagai program pengembangan diri.

Bagi siswa yang bercita-cita menjadi pengusaha, tersedia laboratorium entrepreneur yang memberikan pengalaman langsung dalam membangun jiwa kewirausahaan. Mereka yang tertarik pada bidang pertanian dan peternakan dapat belajar melalui laboratorium alam yang menghadirkan praktik nyata mulai dari proses budidaya hingga pengolahan hasil produksi.

Sementara bagi siswa yang memiliki minat menjadi pemimpin publik, AYWS juga mulai mengembangkan laboratorium kepemimpinan dan politik sebagai sarana pembelajaran tentang tata kelola masyarakat, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

“Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman yang nyata. Mereka belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari kehidupan. Karena pemimpin masa depan lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori,” tegasnya.

Tak hanya itu, AYWS juga mulai memperkuat pembelajaran berbasis teknologi melalui pengembangan laboratorium big data dan peningkatan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Menurut Hafidh, generasi masa depan harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan identitas, karakter, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi kehidupannya.

“Kami ingin anak-anak mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslim yang berakhlak mulia,” katanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, AYWS juga aktif mempelajari berbagai model pendidikan terbaik dunia. Hafidh mengungkapkan bahwa dirinya pernah melakukan studi ke Finlandia pada 2014 untuk memahami sistem pendidikan yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Dari pengalaman tersebut, ia justru menemukan bahwa banyak prinsip pendidikan modern yang sebenarnya telah diajarkan dalam Islam.

“Kami belajar bahwa banyak konsep pendidikan yang dianggap modern sesungguhnya sangat dekat dengan nilai-nilai Islam. Tugas kita adalah mengimplementasikannya secara lebih baik dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Selain Finlandia, AYWS juga mempelajari perkembangan pendidikan Islam modern di Turki yang dinilai berhasil mengombinasikan kemajuan teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai keagamaan secara harmonis.

Menurut Hafidh, pengalaman dari berbagai negara tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi unggul yang mampu berkontribusi di tingkat global.

Ia bahkan menargetkan lulusan Al Azhar dapat mengambil peran penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Saya berharap anak-anak yang hari ini duduk sebagai siswa, suatu saat menjadi pemimpin bangsa. Menjadi gubernur, bupati, menteri, akademisi, pengusaha, ilmuwan, bahkan pemimpin dunia yang membawa manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya.

Hafidh juga mengungkapkan kebanggaannya atas berbagai prestasi yang berhasil diraih siswa Al Azhar selama ini, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa ketika karakter, disiplin, dan pembinaan yang baik berjalan beriringan, maka hasil yang dicapai akan luar biasa.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir pendidikan. “Yang paling penting bukan sekadar menjadi juara. Yang paling penting adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Karena ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga apa yang bisa diberikan kepada masyarakat, bangsa, dan agamanya,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Hafidh menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Al Azhar. Ia juga berterima kasih kepada para guru, tenaga kependidikan, pengurus Jam’iyyah, serta seluruh pihak yang selama ini mendukung pengembangan pendidikan di lingkungan AYWS.

“Perjalanan anak-anak ini masih panjang. Hari ini mereka lulus dari SMP, tetapi sesungguhnya mereka sedang memulai perjalanan menuju masa depan yang lebih besar. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka siap menjadi generasi yang unggul, berkarakter, dan mampu memimpin perubahan,” ujarnya. (Chaidir)