Hanifah dan 10 Juz Alqur’an: Kisah di Balik Wisuda Tahfidz SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta

SLEMAN – Suasana haru menyelimuti Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS), Senin (15/6/2026). Satu per satu siswa SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta maju ke panggung dalam prosesi Wisuda Tahfidz. Iringan musik mengalun, senyum mengembang, dan tak sedikit mata yang berkaca-kaca menyaksikan capaian para penghafal Alqur’an muda.

Di antara deretan wisudawan itu, terselip satu nama yang menyimpan kisah ketekunan yang begitu dalam—Hanifah Chusnul Khotimah.

Hari itu, ia berdiri dengan sederhana. Tidak banyak yang berbeda dari penampilannya dibanding teman-temannya. Namun di balik ketenangan dan senyumnya itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh kesabaran. Dari seluruh wisudawan, Hanifah menjadi salah satu yang mencatatkan capaian Istimewa yakni menghafal 10 juz Al-Qur’an.

Sebuah perjalanan yang tidak instan.

Setiap ayat yang kini melekat dalam hafalannya adalah hasil dari pengulangan tanpa lelah. Hari demi hari ia jalani dengan ritme yang sama—membaca, mengulang, dan menguatkan hafalan. Bahkan, kebiasaan itu telah menjadi bagian dari hidupnya.

Setiap selesai menunaikan sholat, Hanifah mengaku meluangkan waktu untuk kembali bersama Alqur’an. Di saat sebagian orang beranjak dari sajadah, ia justru memilih duduk sejenak lebih lama—membuka mushaf, mengulang hafalan, dan menambah ayat demi ayat.

Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara istiqamah itu perlahan membentuk kekuatan besar dalam dirinya.

Namun Hanifah tidak berjalan sendiri. Di sampingnya, ada sosok ibu yang setia mendampingi. Dalam sunyi, dalam rutinitas yang berulang, sang ibu menjadi teman terbaik—mendengarkan hafalan, mengoreksi, sekaligus menguatkan saat semangat mulai menurun. Pendampingan itu bukan sekadar teknis, tetapi juga emosional—ada doa yang terus mengalir dalam setiap prosesnya.

Di sisi lain, sang ayah, Arifin turut menyaksikan perjalanan tersebut dengan penuh rasa syukur sekaligus refleksi. “Kami melihat  bagaimana Hanifah menjaga konsistensinya. Setiap selesai sholat, dia selalu meluangkan waktu untuk muraja’ah. Itu yang membuat hafalannya terjaga,” ungkap Arifin.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran keluarga dan lingkungan sekolah yang mendukung. “Alhamdulillah, ibunya selalu mendampingi. Kami hanya berusaha menjaga suasana di rumah agar tetap mendukung,” tambahnya.

Lebih jauh, Arifin tidak hanya menyampaikan rasa syukur, tetapi juga pandangan konstruktif terkait penguatan program tahfidz di sekolah. Menurutnya, program yang sudah berjalan baik ini masih memiliki ruang untuk ditingkatkan melalui sistem yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Ia mengusulkan agar dibuat sistem tahfidz yang jelas dan berjenjang sejak awal masuk SMP, sehingga setiap siswa memiliki target yang terarah sesuai tingkatannya.

“Saya mengusulkan dibuat sistem yang berkelanjutan saat di SMP dan ditargetkan secara jelas misalnya Kelas 1 berapa juz, Kelas 2 berapa juz, Kelas 3 berapa juz, dan seterusnya. Sehingga program tahfidz ini benar-benar terstruktur dan meningkat setiap tahunnya,” ujar Arifin.

Menurutnya, kejelasan target menjadi hal penting dalam keberhasilan program. “Karena kalau hanya disebut ‘kelas tahfidz’ tetapi tidak ada target yang jelas, maka hasilnya tidak akan maksimal. Padahal, jika dikelola dengan baik, setiap jenjang bisa memiliki capaian yang membanggakan,” tuturnya.

Ia menambahkan, evaluasi berkala sangat diperlukan agar program ini tidak berjalan stagnan, melainkan terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi para siswa.

“Program tahfidz ini harus menjadi sarana evaluasi dan motivasi agar setiap jenjang kelas memiliki keunggulan, agar anak-anak terus semangat, agar ada target yang ingin dicapai,” lanjutnya.

Apresiasi

Arifin juga mengapresiasi langkah pihak sekolah yang dinilai telah menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan ke depan. “Alhamdulillah, kami mendengar bahwa pihak sekolah—baik dari pimpinan maupun pengelola—telah berkomitmen untuk melakukan perbaikan dan penguatan sistem ini ke depan. Ini tentu menjadi kabar baik dan kebanggaan bagi kita semua,” kata Arifin.

Dengan sistem yang lebih terarah, ia berharap anak-anak tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga berkembang secara bertahap dan konsisten. “Dengan demikian, anak-anak kita tidak hanya menghafal, tetapi juga berkembang secara bertahap dan terarah,” pungkasnya.

Perjalanan Hanifah tentu tidak lepas dari tantangan.

Ada hari-hari ketika rasa lelah datang, ketika hafalan terasa berat, bahkan ketika ayat-ayat yang sudah diingat harus diulang kembali dari awal. Namun dengan kesabaran dan ketekunan, ia terus melangkah.

Sedikit demi sedikit, ayat demi ayat ia kumpulkan—bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dijaga dalam hati.

Di tengah dunia remaja yang penuh distraksi, pilihan Hanifah untuk tetap setia bersama Al-Qur’an menjadi sesuatu yang istimewa. Ia memilih jalan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi penuh makna.

Hari wisuda itu menjadi momen syukur. Bukan sekadar seremoni, tetapi pengakuan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Namun, seperti yang sering diingatkan para pendidik, wisuda tahfidz bukanlah garis akhir.

Bagi Hanifah, sepuluh juz ini adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang—menjaga hafalan, merawat kedekatan dengan Al-Qur’an, dan menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya, Al-Qur’an tidak hanya untuk dihafal. Ia untuk dihidupkan.

Kisah Hanifah Chusnul Khotimah adalah gambaran tentang bagaimana ketekunan, disiplin, dan dukungan orang tua dapat melahirkan capaian yang luar biasa. Ia bukan hanya tentang seorang siswi dengan hafalan 10 juz, tetapi tentang perjalanan hati yang memilih untuk dekat dengan Kalam Ilahi.

Dan dari langkah-langkah kecil yang ia jaga setiap hari—dari setiap ayat yang ia ulang selepas sholat, dari setiap doa orang tuanya—akan tumbuh cahaya yang kelak menerangi banyak kehidupan. Hanifah telah memulai perjalanan itu. Perjalanan panjang bersama Alqur’an. (Chaidir)