- HAWS Magelang menggelar doa bersama sebagai penanda dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027 sekaligus memperkenalkan visi pendidikan Islam berstandar internasional.
- Hafidh Asrom memaparkan perjalanan pengembangan Yayasan Asram hingga lahirnya Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) dan berdirinya Hafidh Asrom World Schools (HAWS) di Magelang.
- HAWS mengusung pendidikan berbasis Kurikulum Cambridge yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam moderat, dengan harapan melahirkan generasi berkarakter, berprestasi, dan berdaya saing global.
HAWS – Hafidh Asrom World Schools (HAWS) menggelar doa bersama menjelang dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027 di Kampus HAWS Magelang, Jalan Ahmad Yani Nomor 320, Kota Magelang. Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya operasional sekolah sekaligus memperkenalkan visi besar pengembangan pendidikan Islam berstandar internasional yang menjadi arah baru Hafidh Asrom Yogyakarta Foundation (HAFY).
Doa bersama dihadiri Pembina HAFY Hj. Eni Yustini SE, Ketua HAFY Drs HA Hafidh Asrom MM, Ketua Yayasan Yudha Dharma Bambang Tricahyo Rahina, para kepala satuan pendidikan HAWS, pimpinan BPPH AYWS, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga sekitar yang selama ini memberikan dukungan terhadap kehadiran sekolah tersebut.
Dalam sambutannya, Ketua HAFY Drs HA Hafidh Asrom MM, menjelaskan bahwa berdirinya Hafidh Asrom World Schools (HAWS) di Magelang merupakan bagian dari perjalanan panjang pengabdian di dunia pendidikan yang telah dimulai lebih dari dua dekade lalu melalui pengembangan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS).
Menurutnya, membangun sekolah bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi berkarakter, berwawasan global, sekaligus memiliki fondasi keislaman yang kuat.
“Perjalanan ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Semua berawal dari sebuah cita-cita untuk menghadirkan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan budaya Indonesia,” ujar Hafidh Asrom.
Berawal dari Yayasan Asram
Hafidh Asrom menjelaskan, cikal bakal pengembangan lembaga pendidikan dimulai pada tahun 2003 melalui pendirian Yayasan Asram. Setahun kemudian pembangunan sarana pendidikan mulai dilakukan hingga akhirnya pada 2005 berdiri unit pendidikan pertama, yakni TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Sejak saat itu, pengembangan dilakukan secara bertahap dengan menambah berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga boarding school.
Memasuki tahun 2025, jaringan pendidikan tersebut berkembang menjadi 19 unit sekolah yang tersebar di empat kawasan utama, yaitu Kampus Monjali Sleman, Kampus Gamping Sleman, Kampus Bantul, dan Kampus Wonosari.
Kampus Monjali menjadi pusat pendidikan yang melayani jenjang TK hingga SMA dan dilengkapi fasilitas boarding school. Kampus Gamping mengembangkan jenjang SD, SMP, dan SMA. Kampus Bantul menghadirkan layanan pendidikan dari TK hingga SMP, sedangkan Kampus Wonosari memadukan pendidikan formal dengan sistem pondok pesantren.
Menurut Hafidh Asrom, pertumbuhan tersebut tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang bertambah, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan masyarakat. Saat ini peserta didik AYWS tidak hanya berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia bahkan enam negara.
“Kepercayaan masyarakat menjadi modal terbesar kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan,” katanya.
Bertransformasi Menjadi World School
Dalam kesempatan tersebut, Hafidh Asrom juga menceritakan proses transformasi AYWS menuju sekolah berstandar internasional. Ia mengatakan, gagasan tersebut mulai dirintis sejak 2009 setelah mempelajari berbagai sistem pendidikan di sejumlah negara, termasuk Finladia dan Turki.
Dari pengalaman tersebut lahir keyakinan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menghadirkan sekolah bertaraf internasional tanpa harus meninggalkan identitas nasional maupun nilai-nilai Islam.
Transformasi tersebut mencapai tonggak penting pada tahun 2024 ketika secara resmi dideklarasikan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). AYWS mengembangkan pembelajaran berbasis Kurikulum Cambridge yang dipadukan dengan pendidikan Islam moderat, sekaligus memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan Northern Illinois University, Amerika Serikat.
Menurut Hafidh Asrom, konsep tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan global yang tetap memiliki karakter keislaman dan kebangsaan.
“Kami ingin membangun sekolah internasional yang lahir dari Indonesia, bukan sekadar mengadopsi sistem luar negeri, tetapi memiliki identitas sendiri,” ujarnya.
Sebagai penguatan visi tersebut, pada tahun 2025 didirikan Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta (HAFY). Hafidh Asrom menjelaskan, pendirian yayasan baru dilakukan untuk memperkuat arah pengembangan pendidikan internasional sekaligus memperluas jangkauan layanan pendidikan di luar Yogyakarta.
Menurutnya, selama ini banyak lembaga pendidikan menggunakan nama Al Azhar, namun tidak semuanya memiliki kerja sama internasional maupun implementasi kurikulum global secara menyeluruh. Karena itu, HAFY dibentuk sebagai identitas baru yang membawa semangat pendidikan Islam modern dengan standar internasional.
Fokus Pengembangan di Wonosari dan Magelang
Dalam paparannya, Hafidh Asrom mengungkapkan bahwa fokus awal pengembangan HAFY sebenarnya berada di kawasan Patok Beji, Wonosari. Di lokasi tersebut telah disiapkan lahan sekitar 15 hektare yang akan dikembangkan menjadi kawasan pendidikan terpadu.
Rencana tersebut mencakup penerapan Kurikulum International Baccalaureate (IB), pembelajaran bahasa Mandarin, serta pengembangan pendidikan berbasis teknologi dan kolaborasi internasional. Namun dalam prosesnya, HAFY menerima amanah baru untuk mengembangkan sekolah di Magelang.
“Ada amanah dari Pak Bambang dan para tokoh masyarakat di Magelang. Dalam bahasa Jawa kami menyebutnya ketiban sampur. Amanah itu kami terima sebagai bentuk tanggung jawab untuk ikut memajukan pendidikan di Magelang,” ujar Hafidh Asrom.
Karena itu, Magelang menjadi lokasi pertama pengembangan Hafidh Asrom World Schools di luar Yogyakarta.
Mengusung Pendidikan Islam Moderat
Hafidh Asrom menegaskan bahwa konsep pendidikan HAWS tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan berbahasa asing, tetapi juga pembentukan karakter. Sekolah mengintegrasikan nilai-nilai Islam moderat yang berkembang di Indonesia dengan mengadopsi tradisi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), serta kearifan budaya Keraton Yogyakarta.
Sebagai bagian dari budaya sekolah, kegiatan mujahadah dan tahlil juga akan terus dilaksanakan sebagai sarana pembinaan spiritual warga sekolah. “Perbedaan bukan untuk dipertentangkan. Justru harus menjadi kekuatan untuk membangun pendidikan yang inklusif dan saling menghargai,” katanya.
Berharap Memberikan Dampak bagi Masyarakat
Selain mengembangkan pendidikan, HAFY juga berupaya memastikan keberadaan HAWS memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Hafidh Asrom mengatakan pihaknya telah menyiapkan sistem lalu lintas, area drop-off, serta pengaturan parkir agar aktivitas sekolah tidak mengganggu lingkungan.
Ia juga berharap kehadiran sekolah dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui berkembangnya berbagai usaha di sekitar kampus. “Kami ingin sekolah ini tumbuh bersama masyarakat dan menjadi bagian dari kemajuan lingkungan,” ujarnya.
Hafidh Asrom memohon doa restu agar proses penerimaan peserta didik baru berjalan lancar dan sekolah dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. “Kami hadir bukan semata-mata membangun sekolah, tetapi ingin berkhidmat di bidang pendidikan. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi generasi mendatang,” katanya.
Apresiasi Ketua Yayasan Yudha Dharma
Ketua Yayasan Yudha Dharma, Bambang Tricahyo Rahina, menyambut baik hadirnya Hafidh Asrom World Schools di Magelang. Ia mengatakan, dukungan masyarakat menjadi modal penting bagi keberhasilan pengembangan sekolah tersebut.
Sebagai putra asli Magelang, Bambang mengaku bangga karena daerahnya dipercaya menjadi lokasi pengembangan sekolah berstandar internasional. Menurutnya, pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia.
Ia menilai tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki karakter dan akhlak yang baik.
“Di era teknologi seperti sekarang, pendidikan karakter menjadi kebutuhan yang sangat penting. Banyak orang yang pintar, tetapi tidak semuanya memiliki akhlak yang baik. Karena itu, sekolah harus mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan pembentukan karakter,” ujarnya.
Bambang juga meyakini kehadiran HAWS akan membawa manfaat bagi masyarakat Magelang sekaligus memperkuat kualitas pendidikan di daerah tersebut. Ia berharap hubungan baik antara sekolah dan masyarakat dapat terus terjaga sehingga keberadaan HAWS menjadi bagian dari kemajuan lingkungan sekitar.
“Kami optimistis sekolah ini akan berkembang dengan baik. Semoga kehadirannya membawa keberkahan, melahirkan generasi yang berprestasi sekaligus berakhlak mulia, serta memberikan manfaat bagi masyarakat Magelang,” katanya. (Chaidir)






