- Learning Attributes sebagai fondasi pendidikan untuk membentuk karakter siswa sebelum meraih prestasi akademik maupun nonakademik.
- Lima atribut utama yang diterapkan di AYBS meliputi Being Independent, Being Responsible, Positivity, Self-Management, dan Growth.
- Kolaborasi sekolah dan orang tua menjadi kunci agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
AYWS – Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tingginya prestasi akademik, tetapi juga oleh karakter dan sikap belajar yang dimiliki peserta didik. Berangkat dari keyakinan tersebut, Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) menjadikan Learning Attributes sebagai fondasi utama dalam mendampingi tumbuh kembang siswa selama menjalani kehidupan di sekolah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 67 Internasional Yogyakarta, Iyut Ayudya MPd, saat memberikan pemaparan dalam acara Parents Meeting Al Azhar Yogyakarta Boarding School (AYBS) Tahun Akademik 2026/2027.
Menurutnya, berbagai capaian akademik maupun nonakademik yang diraih peserta didik tidak hadir begitu saja, melainkan dibangun di atas sikap belajar yang kuat.
“Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan mengenai learning attributes atau sikap belajar. Sebelumnya telah dijelaskan berbagai capaian, program boarding, serta sinergi antara sekolah dan orang tua. Namun, sebelum semua prestasi itu tercapai, ada fondasi penting yang harus ditumbuhkan oleh anak-anak kita, yaitu sikap belajar,” ujar Iyut.
Ia menjelaskan bahwa Learning Attributes merupakan seperangkat sikap, kebiasaan, dan karakter yang membentuk cara peserta didik belajar, berpikir, sekaligus bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini banyak diterapkan di berbagai sekolah berstandar internasional sebagai upaya membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, bertanggung jawab, dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Menurut Iyut, di lingkungan AYWS, konsep tersebut dirumuskan ke dalam lima atribut utama yang menjadi bagian dari budaya belajar sekaligus kehidupan para siswa di asrama.
Atribut pertama adalah Being Independent atau kemandirian. Menurutnya, peserta didik didorong agar mampu mengatur dan mempersiapkan kebutuhannya sendiri tanpa selalu bergantung kepada guru maupun orang tua.
“Informasi kegiatan mingguan sudah kami bagikan setiap Jumat atau Sabtu. Anak-anak kami latih untuk memahami jadwal tersebut, mempersiapkan kebutuhan belajarnya, dan mengatur dirinya sendiri. Pada tiga bulan pertama mungkin masih ada proses penyesuaian, tetapi setelah itu kami berharap mereka menjadi pribadi yang self-driven, tidak lagi menunggu arahan, melainkan mampu mengambil inisiatif,” jelasnya.
Atribut kedua adalah Being Responsible atau tanggung jawab. Sikap ini dibangun melalui berbagai kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari di lingkungan boarding.
“Anak-anak belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, mulai dari merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, membawa perlengkapan belajar, hingga menyelesaikan berbagai proyek yang menjadi tanggung jawab mereka,” katanya.
Selanjutnya adalah Positivity, yaitu kemampuan memandang setiap tantangan dengan sikap positif. Iyut menilai kehidupan di sekolah atau di asrama menjadi ruang belajar yang efektif bagi peserta didik untuk memahami bahwa tidak semua kondisi berjalan sesuai keinginan.
“Dalam kehidupan boarding, anak-anak akan menemukan berbagai situasi yang mungkin tidak ideal. Dari situ mereka belajar menerima keadaan, beradaptasi, dan tetap berpikir positif. Sikap inilah yang akan membantu mereka tetap termotivasi dan berkembang di berbagai situasi,” ungkapnya.
Manajemen Diri
Learning Attribute berikutnya adalah Self-Management atau kemampuan mengelola diri. Menurut Iyut, keterampilan ini menjadi bekal penting bagi remaja untuk menghadapi kehidupan yang semakin dinamis.
Ia menjelaskan bahwa manajemen diri tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan waktu, tetapi juga mencakup pengaturan keuangan, penyelesaian proyek, penggunaan gawai, komunikasi dengan orang tua, hingga kemampuan mengelola emosi.
“Anak-anak belajar mengatur kapan waktu ibadah, belajar, beristirahat, maupun berkomunikasi dengan orang tua. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mereka mampu mengelola emosinya sehingga tidak mudah reaktif dan dapat mengambil keputusan dengan bijaksana,” ujarnya.
Atribut terakhir adalah Growth atau semangat untuk terus bertumbuh. Menurut Iyut, setiap anak pasti akan melakukan kesalahan dalam proses belajar. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka menjadikan kesalahan tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Kami memahami bahwa anak-anak pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting bukanlah kesalahannya, tetapi bagaimana mereka belajar darinya, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.
Melalui lima Learning Attributes tersebut, AYBS dan AYWS berupaya membangun budaya belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga pada pembentukan karakter. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah dan asrama, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berpikir positif, mampu mengelola diri, serta memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
Menutup pemaparannya, Iyut mengajak seluruh orang tua untuk terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah dalam mendampingi perkembangan putra-putri mereka.
“Kami berharap lima Learning Attributes ini benar-benar tertanam dalam diri anak-anak selama mereka belajar bersama kami. Mohon doa dan rida Bapak dan Ibu agar putra-putri kita dapat tumbuh secara optimal, tidak hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam karakter dan kepribadian yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” ujarnya. (Chaidir)






